Tumbuhan Liar Jadi Tulang Punggung Ekonomi Warga Cibentang

BOGOR, kabar1.com – Siapa sangka jika alang-alang yang notabene merupakan tumbuhan liar yang bagi sebagian orang dianggap sebagai tanaman pengganggu ternyata dapat memberikan penghidupan. Hal tersebut dirasakan oleh sebagian besar warga Desa Cibentang terutama bagi mereka yang tinggal di Kampung Cileuleuy.

Disana, hampir setiap rumah dapat ditemui lembaran kiray atau alang-alang yang telah di rajut dan siap dipasarkan. Alang-alang ini umumnya dibuat untuk atap rumah. Bahkan, hasil kerajian warganya tersebut telah melanglang buana hingga ke negeri tetangga, Malaysia. Rata-rata sekitar 5.000 anyaman alang-alang kirim ke Negeri Jiran itu yang diambil setiap dua bulan sekali oleh distributor yang berdomisili di Bekasi.

Baca juga :  Positif Covid-19 di Kab Bogor Bertambah, Pasien Dirujuk ke RS Wisma Atlit

Samin (55), salah satu pengrajin anyaman alang-alang mengatakan dalam sehari ia yang dibantu istrinya, Acih (40) biasa menghasilkan anyaman alang-alang sebanyak 20 lembar yang dijual ke pangkalan yang ada di wilayah Jabodetabek.

Diungkapkan Samin, alang-alang yang sudah dianyam, biasanya digunakan untuk atap rumah makan bergaya tradisional. “Sekarang lagi banyak pemesanan, karena sejumlah rumah makan mulai mendekorasi ruangnya seperti di alam terbuka,” ungkapnya.

Per-lembar anyaman ini dihargai Samin sekitar Rp. 1.300,-. Seorang perajin sediri bisa menjual 100 lembar anyaman alang-alang. Samin sendiri memiliki sepuluh pangkalan yang menjadi langganannya. “Orang-orang dipangkalan biasanya mengambil anyaman ini setiap seminggu sekali,” sebut Samin sambil menganyam bersama istrinya.

Baca juga :  Pemkab Bogor Selaraskan Pemahaman Isu

Untuk membuat anyaman alang-alang, Samin menuturkan alang-alang hasil temuannya kemudian di jemur satu hari dan setelah kering alang-alang tersebut lalu dirangkai hingga menjadi anyaman.

Uniknya, seperti telah dikoordinir para perajin ini mengambil alang-alang di lokasi yang sama secara serempak. Hal ini dikarenakan, mereka biasanya mengirim orang terlebih dahulu untuk mencari alang-alang sebelum mengangkutnya.

Sementara itu, sebelum menjadi perajin anyaman alang-alang Samin mengaku tidak memiliki pekerjaan tetap. Maka dari itu, melihat tingginya permintaan pasar, pada tahun 1980 ia kemudian mencoba untuk memulai usahanya. “Yah, dari pada nganggur, karena dulu kalau ada pekerjaan yang kerja, kalau nggak ya nganggur,” ujarnya.

Baca juga :  Bupati Bogor Rombak Pejabat Bappedalitbang

Samin juga mengaku hingga saat ini, ia bersama perajin lainnya belum pernah menerima bantuan apa pun dari pemerintah. Padahal, dengan banyaknya pembangunan vila atau rumah makan dengan gaya yang minimalis, usaha ini memiliki potensi yang cukup tinggi dan dapat menjadi penunjang dalam kesejhateraan warganya.

“Kami berharap sekali adanya bantuan dari pemerintah. Bukan hanya dari segi permodalannya saja karena untuk usaha ini modal tidaklah terlalu tinggi tapi yang kami inginkan adalah dalam segi pemasarannya,” pinta Samin.FUZ