Stigma Teroris Adalah Islam Dinilai Menyesatkan

JAKARTA, kabar1.com – Pendiri Lembaga Bantuan Hukum Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (LBH PAHAM) Indonesia, Heru Susetyo menyayangkan narasi yang disebarkan penegak hukum dalam upaya penangangan terorisme banyak memberikan stigmatisasi kepada kelompok masyarakat agama tertentu dan menyesatkan opini di masyarakat.

“Terorisme pada dasarnya adalah kejahatan yang definisinya dibentuk secara elastis oleh konstelasi sosial dan politik. Ada sekitar 109 definisi terorisme di seluruh dunia,” kata Heru dalam diskusi “Menangkal Terorisme, Melawan Fear of Crime”, di Jakarta, Rabu (16/5/2018).

Dosen Hukum dan HAM Fakultas Hukum UI ini menyebutkan, segala bentuk kejahatan yang merampas hak hidup dan kedamaian adalah musuh bersama yang harus diperangi. Namun dirinya mengkritisi mengenai pemberian label teroris dan terorisme yang tidak jelas batasannya saat ini.

Baca juga :  Waduh, FBI Sebut Marliem Belikan Jam Tangan Mahal untuk Setnov

Sekjen Asosiasi Pengajar Viktimologi Indonesia ini menjelaskan berdasarkan kajian hukum, viktimologi, dan Hak Asasi Manusia yang dilakukannya, dia mempermasalahkan penegakkan hukum yang tidak jelas batasan lingkup kejahatan yang ditangani. Definisi teroris dan terorisme tidak bisa dianggap remeh dalam sudut pandang hukum.

Ia mencontohkan pada kejahatan internasional, penembakan massal di Amerika hanya disebut sebagai pembunuhan massal dan bukan terorisme. Atau berbagai gerakan separatis di Papua dan Maluku yang tidak disebut teroris padahal nyata mengancam eksistensi kesatuan negara.

Sementara itu, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana, Muhammad Iqbal menyayangkan narasi terorisme terjebak pada stigmatisasi kelompok ajaran Islam dengan narasi radikalisme agama. “Ada kesalahan definisi juga pada makna radikal, seringnya orang Islam jadi korban stigma,” kata Iqbal.

Baca juga :  Susi Pudjiastuti Datang Ke Bogor Menggunakan Helikopter Pribadi

Ia mengatakan bahwa radikal adalah sebuah pikiran atau sikap lompatan melakukan perubahan. Tidak ada masalah pada makna asli radikal. Namun saat ini sikap radikal ini diwujudkan dengan tindak kejahatan yang melawan norma sosial maka radikalisme menjadi masalah. Stigmatisasi pada kalangan penganut Islam justru bisa memicu sikap radikal yang salah dalam beragama menjadi subur.

“Yang awalnya mereka tidak mau, akhirnya sekalian jadi teroris karena dituduh terus,” ucapnya. Ia menyoroti bahwa para pelaku teror sebenarnya menunjukkan gejala gangguan kejiwaan. Kebanyakan pelaku memiliki latar belakang masalah sosial dan ekonomi yang membuatnya berprilaku radikal secara salah.

“Janji indah agama membuat mereka mencari jalan cepat kebahagiaan, keluar dari masalahnya, ini perlu dilihat secara utuh,” katanya seraya menambahkan masalah yang dialami para pelaku ini tidak selalu masalah ekonomi, namun juga masalah sosial di lingkungan keluarga yang terakumulasi sepanjang hidupnya.

Baca juga :  Presiden Jokowi Akan Hadiri Giat Vaksinasi Covid-19 Massal Insan Pers

Sebelumnya Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menyebut kalau sejumlah aksi teror maupun yang tertangkap adalah orang gila yang rela menjual nayawa keluarga dan bangsa sendiri demi melayani birahi para penggiat perang yang mendapatkan keuntungan rupiah dan dolar dari tumpahnya darah.

“Orang yang lebih gila nya itu ada di pucuk pimpinan mereka, yang memerintahkan perang, dan menyiapkan regulasi bagi peperangan. Ada juga yang menjadi robot yang menyiapkan diri untuk kematian yang konyol. Siapa yang salah? Yang penting kita jangan jadi korban!” kata Fahri dalam pesan singkatnya yang diterima wartawan, Rabu (16/5/2018).FUZ






Pos terkait