Soal PSK di Bogor, Bukan Cuma Puncak

Laporan : Muhammad Ilyas

BOGOR, kabarsatu.com – Bicara soal prostitusi di Bogor, memang cukup menarik ditelusuri. Sebab, tak hanya Puncak yang menjadi primadona utama. Ada pula sejumlah kawasan lain yang tak kalah ‘eksotis’-nya dengan daerah di kaki Gunung Halimun-Gede itu.

[nk_awb awb_type=”image” awb_image=”11″ awb_image_size=”full” awb_parallax=”scroll” awb_parallax_speed=”0.2″ awb_parallax_mobile=”true”]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[/nk_awb]

Sebut saja, Gunung Salak Endah (GSE) di Pamijahan, atau Parung-Kemang di daerah utara Bumi Tegar Beriman. Bahkan, fenomena wilayah Parung yang lekat sebagai lokalisasi Pekerja Seks Komersial (PSK) sepertinya memang telah mendarah daging.

Betapa tidak, keberadaan para wanita tuna susila di jalur perbatasan tersebut seperti medan magnet dengan daya tarik yang sangat kuat. Dari hasil Penelusuran yang dilakukan di beberapa lokasi yang kerap dijadikan “homebase” para PSK tersebut memperlihatkan, jika keberadaan “kupu-kupu malam” seperti telah menelusuk menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan warga sekitar.

Baca juga :  Jokowi Harus Konsisten Soal Airlangga Hartanto

 

Bogor Setengah yang Sudah “Mendarah Daging”

Sebut saja, Ratih (28), salah seorang PSK yang kerap mangkal di sepanjang Jalan Raya Parung-Kemang, tepatnya disekitar Desa Jabon, Kecamatan Parung, yang merupakan lokasi yang biasa dijadikan tempat mangkalnya puluhan perempuan yang diduga jablay, mengaku, sudah hampir satu tahun ini dirinya tinggal di wilayah tersebut dan hubungan dengan tetangga sekitar terjalin cukup baik.

Baca juga :  Sali Bagol : Iptu Yudi Tegas dan Humanis

“Pertama datang kesini, awalnya saya ditawari bekerja di salah satu cafe sebagai writters, tapi belakangan saya malah diajak untuk menemani tamu hingga akhirnya terjerembab ke dunia begituan,” ujarnya wanita asal Cianjur Selatan ini.

Ratih juga mengatakan, meski dirinya yakin tetangganya sudah mengetahui “pekerjaannya”, namun hingga saat ini dirinya tidak pernah merasa takut. “Mereka ga terlalu risih kok, baik-baik aja malah cuek. Jadi kenapa harus takut?,” paparnya.

Bahkan, diakui Ratih, dirinya juga sering membawa pelanggannya “bermain” di rumah kostannya yang hanya berukuran 3X4 meter dan berada tak jauh hiruk pikuk dari Jalan Raya Parung.

Baca juga :  Nur Amin Pilih Mundur Sesaat Sebelum Musda, Wawan Haikal, Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Bogor

Ratih pun tak segan memaparkan jika kebanyakan pelanggannya bukan pria lajang tetapi justru para suami yang bermasalah dengan keluarganya. Oleh karena itu ia pun sering menjadi teman curhat walau hanya melalui telepon.

Di dalam gubuk bambu dengan penerangan temaram, serta kehingaran musik dangdut. Tempat Ratih menorehkan karirnya selama bertahun-tahun. Tempat Ratih juga biasa mendengarkan keluhan hati pelanggannya, yang biasanya sambil ditemani minuman keras.
Dinding-dinding gubuk tersebut telah menjadi saksi dari profesionalitas Ratih dalam menjamu lelak. “”Semua (pelanggan) sama, mereka takut sama istrinya” tutur Ratih.(*)