Setelah PPP, PKS dan Demokrat Rajut Koalisi 

33

BOGOR, Kabar1.com – Peta politik Pilkada Kota Bogor 2018 mulai kentara. Setelah PKS merajut koalisi dengan PPP, kini giliran dengan Demokrat. Sebelumnya, PKS dan Gerindra telah mendeklarasikan koalisi dengan label Koalisi Merah Putih (KMP).

Padi dan dua bulan sabit sebutan PKS serta Mercy sebutan Demokrat melakukan pertemuan tertutup di Sekretariat DPD PKS Kota Bogor, Jalan Sholeh Iskandar, Cibadak, Tanah Sareal, Senin malam (20/11/2017).

Tampak hadir Ketua DPD PKS Atang Tristanto beserta jajaran pengurus DPD dan Ketua DPC Demokrat Usmar Hariman beserta jajaran pengurus DPC.

Ketua DPD PKS Kota Bogor, Atang Trisnanto mengatakan, bahwa koalisi ini akan disebut koalisi keumatan, kebangsaan atau apapun nama koalisinya, yang terpenting usaha PKS membangun poros baru dengan istilahnya mencoba menawarkan dan menghadirkan alternatif kepemimpinan.

“Hasil pertemuan pada hari ini sangat konstruktif, menghasilkan kesepakatan-kesepakatan yang segera ditindaklanjuti. Namanya apakah koalisi keumatan atau nama lain. Kami dalam memilih calon internal tidak sembarangan, ada tiga figur calon di PKS yang sudah melewati tahapan fit and propertes hingga proses lainnya dan memilih wakilnya juga tidak sembarangan,” ungkapnya usai pertemuan.

Ia melanjutkan, PKS menginginkan posisi terbaik, tetapi apabila terjadi dinamika dan diskusi yang kemudian mengarah pada kesepakatan dengan hasil PKS mendapat porsi calon wakil wali kota Bogor. Koalisi PKS dan Gerindra dari awal sudah terjalin, kemudian ditambah dengan pertemuan dengan PPP juga Partai Demokrat.

“Dari hasilnya lebih menjanjikan dengan Demokrat dibanding PPP, langsung ada kesimpulan. Tiga partai lebih cepat menentukan kesimpulan terlebih adanya kesamaan semangat di Pilgub Jawa Barat. Kalaupun masuknya PAN dengan calon petahananya, PAN harus mengakomodir tiga partai ini yang sudah 90 persen berkoalisi,” tambahnya.

Atang juga mengatakan, deklarasi PKS, Gerindra dengan Demokrat akan secepatnya akhir November sehingga maksimal akhir Desember selesai penentuan koalisi. Ia menegaskan, bahwa PKS sudah bulat untuk melawan petahana karena roda pemerintahan saat ini dinilai kurang mengena di masyarakat.

“Ada anak kader PKS Kota Bogor meningal karena sulitnya mencari ruang ICU dan PICU di rumah sakit sekota Bogor. Selain itu saya saat mau shalat di masjid IPB tidak ada air, padahal kepemimpinan harus menghadirkan kemaslahatan. Jangan sampai masyarakat tidak terlayani, mau beribadah juga susah air karena kepemimpinan tidak pasti,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua DPC Demokrat Kota Bogor, Usmar Hariman menuturkan, kedatangan pihaknya untuk membalas kunjungan PKS dua bulan lalu. Kemungkinan koalisi Jawa Barat sudah besar, tentu akan berimbas untuk Kota Bogor. Sudah dilakukan ekspose untuk Pilgub Jawa Barat dan nantinya ada ekspose dalam waktu dekat di Cikeas, Kabupaten Bogor dalam menentukan keputusan setiap daerah ditingkat DPD Demokrat.

“Mungkin selesai minggu ini keputusan untuk menentukan koalisi di Pilkada 16 kota/kabupaten. Hampir 90 persen akan jadi koalisi Demokrat dengan PKS, dengan hal itu diikuti Kota Bogor. Kami akan deklarasi dahulu koalisinya, tetapi menunggu satu rekan yang akan koalisi juga. Kota Bogor memunculkan calon yang sudah tersosialisasi,” ungkap wakil wali kota Bogor ini.

Lebih lanjut menurut Usmar, sejauh ini jawaban dari calon petahana Bima Arya belum ada, begitu pula bahasa tubuh atau pernyataan resmi belum dikeluarkan oleh calon petahana. Karena menunggu itu lelah dan menjemukan sebagai ketua partai dirinya merajut beberapa kemungkinan.

“Pembagian siapa yang akan dimunculkan calon wali kota atau wakilnya dari mana belum dimunculkan dan kemunkinan ada dua partai lagi yang akan merapat. Sampai detik ini calon petahana belum memutuskan, dari gesturnya juga belum ada. Demokrat tidak boleh tergantung itu, kami menyiapkan strategi lain. Dalam politik tidak ada yang pasti, tapi kepentingan yang sejati,” tutup Usmar. (HRS)

Komentar anda