Satres Narkoba Buru Bandar Dikawasan Tanah Sereal Kota Bogor

  • Bagikan
Img 20201202 Wa0037

BOGOR – Dari pelaksanaan Operasi Antik Lodaya 2020. Polres Bogor Kota merilis 21 tersangka tindak pidana narkoba. Setidaknya penangkapan ini berdasar hasil pengembangan dari total 18 kasus oleh jajarannya, selama bulan November 2020.

Menurut Kapolresta Bogor Kota, Kombes Pol. Hendri Fiuser, dominan peran para tersangka rata-rata hanya sebagai kurir untuk beberapa wilayah Bogor Raya.

“Adapun sasaran dari pada peredaran narkoba tersebut pada usia-usia produtif, yaitu pada usia 25 hingga 40 tahun,” paparnya.

Sementara untuk total pelaku yang diamankan, kata Hendri, Satres Narkoba Polresta Bogor masih melakukan pengembangan lanjut dan memungkinkan adanya penambahan tersangka baru.

“Bahkan saat ini, Satres Narkoba juga sudah menetapkan satu DPO. Satu orang ini berperan sebaa bandar di wilayah Tanah Sereal,” ungkapnya.

Dalam rilisnya, Satres Narkoba Polres Bogor Kota berhasil menyita sejumlah barang bukti, diantaranya, 62 paket shabu seberat 102 gram, 8 bungkus paket ganja seberat 171,27 gram dan narkotika jenis sintetis gorilla sebanyak 66 paket seberat 281,5 gram.

“Jadi perlu di catat, kita bisa katakan tidak ada, kalau petugasnya juga tidak aktif. Ini berkat keaktifan petugas karena kita yakin penomena atau penyalahgunaan narkotika ini seperti gunung es,” tegas Hendri.

“Dari 21 orang tersangka tersebut telah melanggar pasal 114 ayat (2) subsidier pasal 112 ayat (2) dan pasal 114 ayat (1) subsider pasal 111 ayat (1) Undang-undang RI Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman paling singkat 6 tahun penjara dan paling lama 20 tahun penjara atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000.000,-(satu milyar) rupiah dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah),” tambahnya.

Ditempat yang sama, saat dikonfirmasi, Kasat Narkoba Polresta Bogor Kota AKP Agus Susanto menyatakan barang haram tersebut didapat didapat dari wilayah Jakarta, Bogor dan Depok. “Ada juga dari jalur Lapas. Karena di wilayah bogor ini tidak jauh-jauh level-nya masih level lokal,” ujarnya.

“Untuk jalur Lapas sendiri yakni hanya sebagai perantara atau penghubung lewat jaringan Napi yang ada didalam Lapas, untuk mengemudikan sistem tempel (peta). Dan dari sekian banyak yang kita ungkap itu 70% (tujuh puluh persen) rata-rata dengan sistem tempel,” tutup Agus. STR

  • Bagikan