Relokasi Sektor Industri Padat Karya : Upah Tinggi, Pengangguran Tinggi

Relokasi Sektor Industri Padat Karya : Upah Tinggi, Pengangguran Tinggi 1
Istimewa

JAKARTA, kabar1.com – Pamor Banten sebagai primadona investor asing kala tujuh tahun lalu, kini mulai surut, khususnya dibidang padat karya.

Sektor industri alas kaki atau sepatu memilih angkat kaki dari Banten karena persoalan upah yang tinggi. Padahal sektor ini satu pabrik bisa menyerap puluhan ribu tenaga kerja.

Test

“Kita relokasi dari Tangerang (Banten), relokasi pabrik ke Jateng. UMP di Jateng, masih cukup bagus,” kata Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko beberapa waktu lalu.

Aprisindo mencatat hingga Juni 2019 sebanyak 25 pabrik alas kaki hengkang dari Banten termasuk dari Tangerang, hijrah ke Jawa Tengah (Jateng). Hal ini pun dibenarkan oleh Pemprov Banten melalui Badan Pusat Statistik (BPS).

“Sementara data kami baru pabrik sepatu, karena UMP (upah minimum) yang tinggi,” kata Kepala BPS Banten Adhi Wiriana dikutip dari CNBC Indonesia, Rabu (13/11).

Baca juga :
Wah, Ada Perusahaan Laundry Cemari Lingkungan

Secara upah minimum provinsi (UMP) 2019, Banten hanya Rp 2,2 juta, tapi justru yang lebih tinggi adalah upah minimum kabupaten/kota (UMK) 2019.

Kota Cilegon dan hingga Kabupaten/Kota Tangerang termasuk yang tertinggi di Indonesia. Nilainya memang masih sedikit di bawah Kota Bekasi dan Kabupaten Karawang sebagai UMK tertinggi di Indonesia yang mencapai Rp 4,2 juta pada 2019.

UMK Kota Cilegon sebesar Rp 3,91 juta, UMK Kota Tangerang sebesar Rp 3,86 juta, UMK Kabupaten Tangerang Rp 3,84 juta, Kabupaten Serang Rp 3,82 juta. Upah ini belum menghitung upah sektoral, yang angkanya lebih tinggi lagi.

Misalnya UMK di Tangerang pada 2019 mencapai Rp 3,8 juta, sedangkan upah minimum sektoral bisa mencapai Rp 4 juta untuk sektor industri alas kaki, sektor industri lain ada yang sampai Rp 4,4 juta.

Baca juga :
Ekonomi Negara Makin Memburuk

Ternyata upah yang tinggi ini sejalan dengan tingkat pengangguran di Banten. Serang, sebagai ibu kota Banten menempati kota dengan pengangguran paling tinggi di Banten mencapai 10,65% dari jumlah angkatan kerja di sana.

Di posisi kedua dipegang oleh Cilegon yang merupakan kota industri, tingkat pengangguran di sana 9,68%, setelahnya ada Kabupaten Tangerang yang mencapai 8,91% yang juga kawasan industri di Banten.

Kepala BPS Banten Adhi Wiriana juga membenarkan soal relokasi 25 pabrik sepatu dari Banten turut menyumbang angka pengangguran di Banten.

Selain itu, penyumbang tingkat pengangguran di Banten selain faktor relokasi pabrik karena musim kemarau. Pada Februari-September 2019 di Banten mengalami kemarau panjang. Hal ini mengakibatkan petani menganggur karena tidak bisa menanam karena pasokan air yang kurang.

Baca juga :
Bulan Ramadan Tak Halangi Polres Bogor Bekuk 3 Tersangka Narkoba

Kedua, ada beberapa industri yang merumahkan karyawan dan peralihan industri yang mengakibatkan jumlah pengangguran bertambah. Salah satunya, perumahan karyawan di Krakatau Steel (KS) dan tutupnya perusahaan Sandratex di Tangerang Selatan.

“Ini hasil dari survei kami demikian,” kata Adi.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Banten pada Agustus 2019 mencapai 8,11% dari angkatan kerja di Banten yang mencapai 6,05 juta orang. Data BPS Banten menunjukkan tingkat pengangguran terbuka di Banten memang trennya menurun, meski menurun tapi masih tetap tinggi, jauh di atas rata-rata nasional yang 5,28%. Pada Agustus 2017 pengangguran di Banten mencapai 9,28%, lalu pada Agustus 2018 turun jadi 8,52%.