Ads Ied Fitr

Ratusan Massa Bentrok Dengan Aparat Gabungan di Depan Istana

0 6

BOGOR, kabar1.com – Tak puas dengan hasil penghitungan suara yang mengalahkan pasangan calon yang dijagokannya, ratusan massa pendukung pasangan calon tersebut langsung menyerbu Istana Bogor untuk memprotes hasil penghitungan yang dianggap syarat dengan kecurangan.

Saat berada di depan gerbang Istana, kisruhpun tak terhindarkan ketika ratusan massa ini dihalau aparat gabungan yang sudah sejak awal siaga dengan membentuk barikade. Saling dorongpun pecah antara petugas kepolisian dengan massa, bahkan mereka nyaris baku hantam.

Pada situasi lain, luapan ketidakpuasan puluhan massa lainnya tak terkontrol hingga bersikap anarkis, dengan membakar satu unit kendaraan angkutan umum yang tengah parkir di tepi jalan. Sontak hal ini membuat aparat kepolisian bergerak membubarkan massa dan memadamkan api.

Amuk massa yang sulit dikendalikan mendorong aparat kepolisian membuang tembakan peringatan dan menyemprotkan water cannon ke arah krumunan massa yang mulai tampak bringas, hingga akhirnya ratusan massa tersebut kocar kacir menghindar dari sasaran peluru hampa dan kuatnya semprotan water cannon.

Demikan simulasi kontigensi yang dilakukan jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Jabar di kawasan Bogor Nirwana Residence (BNR), Bogor Selatan Kota Bogor bernama Operasi Praja Lodaya 2018, dalam melakukan upaya pengamanan pesta demokrasi pemilihan kepala daerah di Jawa Barat, yang akan di gelar pada Juni 2018 mendatang.

“Seperti kita peragakan, hal inilah (simulasi) yang kita lakukan nanti bila dalam keadaan kotigensi. Satuan Polri dan TNI yang diberi nama Tripatra melibatkan semua unsur,” kata Kapolda Jabar, Irjen Pol. Agung Budi Maryoto kepada wartawan, Sabtu (03/02/2018).

Dijelaskan Kapolda, dalam pengamanan pilkada serentak di Jawa Barat, Polda Jabar menerjunkan sedikitnya 21.500 personelnya ditambah 27 Satuan Setingkat Kompi (SSK) pasukan dari jajaran Kodam III Siliwangi. Hal ini mengingat pada pilkada sebelumnya terdapat wilayah-wilayah yang menjadi titik rawan konflik mulai dari jelang hingga pasca pilkada di Jawa Barat.

“Pertimbangan titik rawan lainnya adalah ketika Pilkada sebelumnya. Persiapan kita, pengamanannya lebih maksimal lagi,” pungkas Agung. (BTSN)

Komentar
Loading...