PSBB Bikin Hidup Keluarga di Sukaraja Ini Makin Sulit

PSBB Bikin Hidup Keluarga di Sukaraja Ini Makin Sulit 43

BOGOR – Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diharapkan menjadi solusi untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19, rupanya harus dibayar malah keluarga ini. Ya, penerapan sistem ini justru semakin membuat kehidupan warga asal Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor ini, semakin sulit terjepit.

Himpitan ekonomi yang terus menggelayut jauh dalam keseharian, kini semakin mencekik leher setelah PSBB dijalankan. “Karena keadaan saya yang tidak punya penghasilan, dan harus standby mengurus ibu, ya untuk kebutuhan sehari-hari saya juga kebingungan, kalau ada uang buat beli beras, ya saya beli, tapi kalau gak ada, ya mau gimana lagi, beruntung terkadang ada tetangga yang peduli datang membantu memberikan makanan,” ujar Andir Irawan, anak Sa’anah (62), yang tergeletak lemah disampingnya.

Test

Ya, Andri adalah anak dari Sa’anah. Keluarga ini tinggal di RT 05/RW 01, Desa Cimandala, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor. Andri, atau yang sehari-hari disapa Onggo ini terpaksa ‘mengadaikan’ sela waktunya, antara mencari nafkah dan menjaga ibunya yang hanya bisa yang tergolek lemah ditempat tidurnya, tanpa bisa berkata-kata.

Baca juga :
PBB Undang BNN RI

Andri sendiri sudah lama menganggur dan hanya bekerja serabutan. “Sejak ibu jatuh beberapa waktu lalu, ibu langsung tak bisa berjalan, ditambah komplikasi dengan penyakit lainnya membuat penyakit ibu semakin parah hingga tak kuasa lagi bangun dari tempat tidur. Untuk semua keperluannya semua saya yang urus,” ucapnya lirih.

Onggo pun melanjutkan, sebenarnya sang ibu sempat dirawat selama seminggu di RSUD dengan menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS), namun kata dokter pinggul si ibu harus dioperasi.

Tapi karena kadar Hemoglobin (HB) ibu Sa’anah saat itu rendah, dokter pun tak berani mengambil resiko melakukan operasi, dan memutuskan agar sang ibu rawat jalan dulu di rumah.

“Nah setelah pulang dari rumah sakit tersebut, keadaan ibu saya malah semakin parah. Selain tidak bisa bangun lagi, dia juga tidak bisa lagi menelan makanan, nasi ataupun bubur. Akhirnya saya menyiasati nya dengan memberikan minuman sereal, setiap pagi siang dan malam ibu hanya minum itu saja,” ungkapnya.

Baca juga :
Amankan Lintasan Emir Qatar, Dishub Kota Bogor Siagakan 200 Personel

Saat ditanyakan apakah pihak RT/RW setempat mengetahui kondisi keluarga, Onggo menjawab, pihak RT sudah tahu tapi karena memang bantuan pangan dari pemerintah terkait dampak corona belum turun, ya mau ga mau harus menunggu.

Sedangkan meskipun tergolong keluarga miskin, Sa’anah dan anaknya, Andri tidak termasuk dalam DTKS penerima bantuan PKH atupun BPNT dari pemerintah, ibu Sa’anah hanya punya KIS untuk keperluan berobat saja.

“Keterbatasan pengetahuan sayalah sehingga saya tidak tahu harus meminta bantuan ke siapa, saya hanya berharap ibu saya bisa berobat dan sembuh seperti sediakala. Mudah-mudahan dengan ini pihak pemerintah desa/kecamatan ataupun kabupaten bogor bisa memperhatikan keadaan dan kondisi kami,” harapnya.

Baca juga :
Lapas Pondok Rajeg Pekerjakan 28 Warga Binaan

Pihak Desa yang dikonfirmasi melalui Kasi Kesra, Mumuh yang mengaku belum tahu kejadian atas warganya tersebut, dengan nada kaget menjawab. “Waduh saya baru tahu kalau ada kejadian seperti itu dengan warga kami, kalau anaknya si Onggo saya kenal, karena saya juga tinggal tidak jauh dari sini hanya beda RT saja ” ucapnya.

Mumuh pun berjanji akan menyampaikan hal ini kepada Kepala Desa. “Coba nanti akan saya sampaikan dulu ke kades untuk di tindak lanjuti, kalau untuk bantuan PKH atau BPNT dari pemerintah, keluarga tersebut memang tidak termasuk penerima, karena yang bersangkutan belum diajukan ke pihak Dinsos Kabupaten Bogor,” jelas Mumuh.

Sementara itu, Kepala Desa Cimandala yang diberikan informasi tersebut dan coba dimintai tanggapannya, melalui pesan WhatsApp, hanya menjawab singkat saja. “Belum dapat info kang” isi pesan balasan WhatsApp yang media ini terima. */WAN