Polisi Belum Bisa Pastikan Penyebab Kematian di Pabrik Maut Di Parung Panjang

BOGOR, kabarsatu.com – Kepolisian Sektor Polsek Parung Panjang Polres Bogor bersama Diklaspor Mabes Polri terus melakukan olah TKP, terkait tewasnya 7 orang pekerja dan warga setempat akibat dugaan mengirup zat berbahaya yang ditimbulkan kolam mengolahan limbah di pabrik pembuatan alas telur, Parung Panjang, Kabupaten Bogor.

Namun, hingga saat ini Polisi belum bisa memastikan penyebab kematian para korban dan belum bisa menjelaskan kandungan zat berbahaya yang dikeluarkan kolam milik pabrik yang berlokasi di Kampung Cibunar Kardus, RT 02/RW 03, Desa Cibunar, Kecamatan Parung panjang, Kabupaten Bogor ini.

Baca juga :  Sebar Kabar Bohong, Warga Cimanggung Diamankan Polres Sumedang

Kasat Reskrim Polres Bogor AKP Bimantoro Kurniawan mengatakan, kedalaman kolam 4 meter dengan persegi 4 X 4, untuk kedalaman air sekitar 30-40 senti meter. “Untuk mengetahui zat yang berbaha. Kita masih menunggu hasil dari Diklapor Mabes Polri, untuk kepentingan penyidikan polisi mengambil beberapa sempel dari hasil olah TKP, salah satunya air yang ada di dalam kolam dan lain-lain untuk pengolahan limbah tersebut diambil untuk kepentingan penyelidikan,” katanya.

Baca juga :  Sampah Berserakan, Warga: Bau!!!

Selain itu, Kasat Reskrim juga, menerangkan, terkait soal evakuasi yang berlangsung lama. Menurutnya, memang tidak bisa dilakukan secara konvesional karena jika melihat kejadiannya, dua orang menolong kemudian terjatuh dan terjatuh lagi sehingga ada 7 orang 1 orang sempat dibawa kerumah sakit dan meninggal.

“Oleh karena itu, kita harus cukup mempunyai peralatan-peralatan yang memadai untuk bisa mengevakuasi para korban oleh Basarnas dan dari BPBD Bogor meminta bantuan sehingga sekitar pukul 02.00 WIB dini hari baru bisa di evakuasi dan di bawa ke Rumah Sakit Kramatjati,” ungkapnya.

Baca juga :  Cabor Menembak Kabupaten Bogor Siap Pertahankan Juara

Informasi terakhir yang didapat kabarsatu.com dilokasi, untuk sementara, polisi sudah memanggil pemilik pabrik dan 2 orang sebagai saksi. “Kemudian pabrik ini kita jadikan status quo dan untuk tida terulang polisi menghimbau kepada masyarakat dalam melakukan pekerjaan nya lebih memikirkan resiko apah ¬†yang akan terjadi untuk melakukan pekerjaan itu sendiri,” pungkasnya Kasat Reskrim. (YAS)