Pengadaan Alkes di RSUD Sumedang Dipersoalkan, Pengusaha Buka-bukaan

  • Bagikan
Img 20210702 Wa0147

SUMEDANG – Pengusaha penyedia Alat Kesehatan (Alkes) yang merupakan Principal PT. Siemens, berinisial In, mengaku kecewa

soal dugaan kenakalan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sumedang, dr.H.Aceng Solahudin (AS).

Hal itu, terkait pengadaan CT (Computerised Tomography) Scan, bernilai Rp12,8 miliar, yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) 2021.

Kepada sejumlah awak media, In membeberkan peran AS, dalam menentukan produk (CT Scan) yang akan dibeli.

Diduga tanpa melibatkan user (dokter di RSUD Sumedang yang akan menggunakan alat kesehatan tersebut).

“Pada 2021 ini, saya fokus dalam pengadaan CT Scan khusus di RSUD Sumedang, 128 slice e-katalog. Dari Februari, saya sudah maintenance. Karena tidak hal aneh dikatakan, kalau pengadaan barang dan jasa manajemen  terutama Direktur selalu mengatasnamakan user. Disini akan saya bongkar, karena saya tahu semua,” kata In, dihadapan awak media di Sumedang, Jumat 2 Juli 2021.

Pertama, kata In, barang (produk) dari perusahaanya merasa dikalahkan.

Namun, hal itu tidaklah menjadi soal, bahkan pihaknya siap mundur.

Sebab laku dan tidak laku dalam berjualan itu menjadi hal biasa, tapi asal jangan dizalimi.

Ironis, sebelumnya sudah disepakati AS, telah presentasi serta mengundang semua pihak.

“Judul selalu mengatakan atas nama user, untuk kepentingan user. Hakekatnya, karena kami sejak Pebruari tempel terus (menjajaki) dengan dokter radiologi (dokter yang akan menggunakan alat kesehatan tersebut. Jadi tahu semua. Malah yang jadi rujukan dan tempat belajar atau mencari pengalaman (ilmu) terkait rencana pembelian alat baru kiblatnya itu Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Termasuk dengan rencana pengadaan CT Scan ini,” katanya.

Menurut dia, sejak Februari, semuanya baik-baik saja dan sudah beberapa kali bertemu dengan AS.

“Dari Februari, AS sudah bicara, supaya saya menghubungi seseorang di Kemenkes (Kementerian Kesehatan) berinisial dr. Do,” ujar dia.

Omongan untuk menghubungi dr.Do di Kemenkes itu, sudah dilontarkan AS kepada tiga orang yang menemuinya.

Karena merasa penasaran dengan orang di Kemenkes itu, akhirnya ditelusuri.

“Apalagi kemarin itu ketika di “klik”,(barang yang di e-katalog), yang muncul barang merek orang lain. Heran, katanya yang pesan itu dr.Do. Ke kami dari awal sebelum “klik” selalu ngomong, coba dong ke dr.Do dulu. Karena kata AS,  saya sih susah sama mereka,” kata In.

Berbekal koneksi yang ada di Kemenkes dan Bapenas, In pun mengorek tetang sosok dr. Do.

Diperoleh informasi, dia tidak terima diseret-seret oleh AS terkait pengadaan CT Scan di RSUD Sumedang.

Malah, mengaku tak kenal Aceng dan tak ada urusan dengan Sumedang.

“Jika persoalan itu berbuntut panjang, dia (dr.Do) siap untuk dijadikan saksi. Kemarin saya sudah kirim staf saya untuk menemui AS. Telah disampaikan bahwa kami sudah klarifikasi ke sana (Kemenkes). Secara tegas disana menolak dan menyatakan jika apa yang terjadi itu telah merusak nama baik dan menjual nama-nama orang. Dijelaskan seperti itu,  AS  jadi gelagapan,” ucapnya.

Dugaan kenakalan AS itu, akhirnya terendus setelah In, mendapat informasi dari orang dalam (orang sekitar AS), yang katanya AS telah memerintahan kepada PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) berinisial Er, untuk meng-“klik” produk CT Scan merek Ph.

Bahkan, ternyata AS bohong, tidak pernah memanggil user untuk menanyakan, merek CT Scan yang akan dipakai.

“User telah ditekan, karena menurutnya soal merek alat yang akan dipakai itu katanya urusan manajemen saja. Padahal itu nggak boleh, karena yang mau pakai itu mereka. Kalau memang itu alatnya sederhana seperti tempat tidur, kursi itu urusan manajemen. Tapi alat-alat yang disiplin ilmu lex specialis itu, gak boleh dan kalau pun terakhir ada user yang ditanya soal merek yang akan dipakai, itu disaat sudah “klik” CT Scan merek ph,” katanya.

Jadi pointnya, lanjut In, dalam proses pengadaan CT Scan di RSUD Sumedang, AS telah menyeret dan mengatasnamakan nama dr. Do, seseorang di Kemenkes yang disebut memesan untuk memakai merek ph serta yang bersangkutan tidak membeli alat sesuai dengan yang diinginkan user.

“Disamping itu, kami masih memiliki beberapa hal tentang kenakalan AS ini,” tuturnya.

Dikonfirmasi melalui sambungan telepon seluler (WhatsApp), Direktur RSUD Sumedang dr. Aceng Solahudin membantah semua dugaan tersebut.

Termasuk, membantah saat disinggung dirinya mengatasnamakan seseorang di Kemenkes,untuk mengarahkan “klik” pada produk CT Scan merek tertentu.

“Itu semua tidak betul. Dalam pengadaan CT Scan ini ada empat perusahaan yang ikut, dan hanya satu, dipilih pasti yang terbaik,” ujarnya.

Ia mengatakan, tidak betul juga kalau user tidak dilibatkan. (Abdullah)***

  • Bagikan