Peduli Thalasemia, dr Joko Berharap Warga Mau Donor Darah

BOGOR, kabar1.com – Ketua Thalasemia Kota Bogor, dr Djoko coba mengetuk pintu para dermawan untuk mau mendonorkan darahnya bagi para penderita Thalasemia. Hal ini diungkapkannya kepada kabar1.com, Selasa (5/6/2018).

Menurut Joko, penyakit Thalasemia di kalangan masyarakat terus meningkat setiap tahunnya.  “Peningkatan tiap tahunnya mencapai 5-10 persen di Indonesia, sedangkan di Jawa Barat, setiap 3.000 kelahiran bayi, kemungkinan 300 bayi diantaranya menderita penyakit Thalasemia tersebut,” kata dokter spesialis anak ini.

Djoko menjelaskan, pengenalan masyarakat tentang Thalasemia masih kurang. Banyak masyarakat yang belum mengenal penyakit kelainan darah tersebut. Thalasemia merupakan penyakit kelainan darah yang diturunkan dari orang ua secara genetik yang dibedakan menjadi Thalasemia minor (pembawa sifat/hidup normal) dan Thalasemia mayor (memerlukan transfusi darah).

Baca juga :  Pria Berjenggot Mampu Komitmen Berhubungan?

Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, mulai dari usia enam bulan hingga 33 tahun. Penyakit ini membuat penderitanya bergantung pada transfusi darah. Para penderita Thalasemia memang hidup dari transfusi darah, namun transfusi tersebut membawa efek yang kurang baik bagi penderita, seperti zat besi dalam tubuh penderita meningkat.

“Dalam beberapa kasus, kelebihan zat besi bisa menyebabkan penggelapan warna kulit, tapi jika zat besinya sudah membungkus jantung, maka akan sangat berbahaya,” katanya.

Dilansir dari Hallosehat.com, thalasemia tidak ada obatnya, namun berbagai gejala yang diakibatkan oleh kondisi ini dapat dikendalikan dengan terapi dan gaya hidup sehat. Salah satu hal yang harus diperhatikan untuk mengelola thalassemia adalah pemilihan makanannya. Pasalnya, thalassemia sering menyebabkan masalah gizi. Dampaknya pun bisa lebih fatal.

Baca juga :  Pemerintah Tetapkan Bandung, Bogor & Magetan untuk Rapid Test Baru

Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan angka risiko thalasemia tertinggi di dunia. Menurut data yang dikumpulkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) dari 100 orang Indonesia, ada 6 sampai 10 orang yang berisiko thalassemia.

Mutasi genetik membuat tubuh tidak mampu untuk menghasilkan bentuk hemoglobin yang sempurna. Hemoglobin yang terletak di sel darah merah berfungsi untuk membawa oksigen. Ini menyebabkan darah tidak mampu mengangkut oksigen dengan baik. Ketika jumlah sel darah merah sehat menurun, maka asupan oksigen yang dikirim ke semua sel tubuh lainnya juga akan ikut menurun.

Baca juga :  Cegah Sebaran Covid-19, Pemuda Karang Taruna Laksanakan Penyemprotan Disinfektan

Studi tahun 2010 yang diterbitkan dalam Journal New York Academy of Science melaporkan bahwa masalah gizi yang paling sering ditemukan pada orang-orang dengan thalasemia adalah defisiensi vitamin A, D, E, zink, hingga asam folat.

Masalah kekurangan gizi yang ditimbulkan penyakit thalassemia ini mengakibatkan melemahnya sistem imun tubuh dan peningkatan risiko osteoporosis yang lebih besar jika dibandingkan orang lain yang lebih sehat.

Sementara itu, thalassemia pada anak dan remaja dapat menyebabkan gangguan perkembangan (keterlambatan pertumbuhan atau bahkan gagal tumbuh) dan gangguan pubertas.FUZ