OSO: Oposisi Bikin Rupiah Makin Gonjang-Ganjing

Home / Ekonomi

Kamis, 6 September 2018 - 15:05 WIB

JAKARTA, kabar1.com – Ketua DPD RI, Oesman Sapta Odang (OSO) ‘ngambek’ karena melemahnya nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika terus digoreng ke ranah politik dan terus menyalahkan pemerintahan saat ini.

Untuk itu OSO meminta semua pihak untuk sama-sama menjaga pelemahan nilai tukar rupiah ini sebagai tantangan ekonomi. “Kalau oposisi cuma bisa kritik-kritik membuat ketidakpastian ke masyarakat, ini menurunkan kepercayaan kepada perekonomian kita, menurunkan kepercayaan nilai tukar rupiah. Justru oposisi ini bisa membuat nilai rupiah makin gonjang-ganjing. Ini tantangan bersama,” kata OSO di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, kemarin.

Menurut OSO, ini bukan soal politik, ini ekonomi bersama, kita pisahkan dulu dengan politik. Harus solid, berikan optimis, karena memang faktanya makro ekonomi, fundamental makro ekonomi kita kuat,” kata Ketua Umum DPP Partai Hanura ini.

Baca juga :  Dolar Naik, Pengrajin Tempe Desa Citeko Resah

OSO Berdalih, bukan hanya dihadapi Indonesia. Tapi masalah semua bangsa mengalami melemahnya mata uang. “Kalau terkait perekonomian, khususnya terkait nilai tukar rupiah, itu masalah banyak bangsa, masalah banyak negara di dunia. Ini karena faktor dominannya adalah faktor eksternal,” ucap OSO.

tbn

Dijelaskannya, sejumlah langkah cepat yang diambil pemerintah sudah sangat tepat. Karenanya, meminta semua pihak untuk melakukan hal yang sama.

“Kita mendorong semua usaha untuk kembali ke tanah air duit-duit itu. Mengajak juga dunia usaha untuk melakukan konversi dari simpanan-simpanan mata uang asing mereka, khususnya mata uang dolar AS untuk ke rupiah. Itu yang memperkuat kita,” ungkap OSO.

Baca juga :  Tunggu Rupiah Stabil, Pemerintah Tunda Pembangunan Infratsuktur

Sementara Menkopolhukam, Wiranto, menegaskan, pemerintah tidak perlu didesak atau didorong-dorong dalam mengatasi pelemahan rupiah. Karena menurut Wiranto, meskipun pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih berlanjut, dipastikan pemerintah tidak tinggal diam. “Ya pemerintah enggak usah didesak-desak ya. Pemerintah itu kan tahu apa yang dihadapi,” kata Wiranto.

Wiranto menilai kondisi ekonomi global juga sedang tidak menguntungkan bagi Indonesia. Meskipun demikian, dia tidak mau menjelaskan secara detail bagaimana situasi global itu.

Mengenai apakah pelemahan rupiah ini dijadikan komoditas politik untuk menyerang pemerintah, Wiranto juga enggan menjawabnya. Dia kembali menyerahkan soal itu ke menteri-menteri bidang ekonomi. “Jangan ditanyakan ke menteri yang tidak ada sangkut paut dengan masalah itu,” jawab Wiranto.

Baca juga :  Rupiah Sudah Diatas Rp. 14.000 Per 1 US$

Terpisah, Wakil Ketua Komisi IV DPR Michael Wattimena mengingatkan pengalaman pahit krisis ekonomi tahun 1998 jangan terjadi lagi. Pada tahun 1998 lalu terjadi resesi ekonomi yang diawali terus melemahnya nilai mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

“Akibat resesi ekonomi saat itu, mata uang rupiah Rp2000 per dolar, namun terus melonjak hingga Rp15.000 sampai Rp16.000 per dolar. Kondisi inilah yang perlu diwaspadai,” tutur Michael dalam interupsi di sela-sela Rapat Paripurna di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (4/9/2018).