Nilai Tukar Rupiah Masih di Atas Rp.14.000,- Per Us$ 1

JAKARTA, kabar1.com – Meski ada pergerakan, namun nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis (17/5) pagi masih diatas Rp.14.000,-, yaitu menjadi Rp14.070 dibanding posisi sebelumnya Rp14.086 per US$ 1.

Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada mengatakan bahwa pemerintah yang terus berupaya menjaga kesehatan APBN direspon positif sebagian pelaku pasar sehingga rupiah mengalami apresiasi terhadap dolar AS.

“Karena APBN yang sehat merupakan salah satu alat untuk menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan, dengan begitu ekonomi akan tumbuh berkelanjutan,” kata Reza, Kamis (17/5/2018).

Ia menambahkan bahwa harapan pasar terhadap kebijakan Bank Indonesia yang akan menaikan suku bunga acuan (BI 7-Day Repo Rate) turut mempengaruhi pergerakan mata uang rupiah. “Antisipasi terhadap kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia turut menjaga laju rupiah,” kata Reza.

Baca juga :  Indonesia Kini Layaknya Pesakitan

Kendati demikian, lanjut dia, apresiasi rupiah relatif masih terbatas mengingat sentimen yang beredar, terutama prospek kenaikan suku bunga AS masih cukup kuat. Perbaikan yang terjadi pada ekonomi Amerika Serikat memberikan ruang yang cukup bagi dolar AS untuk kembali terapresiasi.

Di sisi lain, lanjut dia, sentimen kenaikan yield obligasi Amerika Serikat tenor 10 tahun yang berada di atas level 3 persen masih menjadi salah satu faktor yang membatasi nilai tukar domestik terapresiasi lebih tinggi.

Sementara itu, Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan kenaikan imbal hasil memperlebar selisih suku bunga antara AS dan negara maju lainnya, sehingga meningkatkan daya tarik dolar AS. “Meningkatnya imbal hasil AS dapat memicu perpindahan arus modal dari pasar berkembang,” kata Ariston.

Baca juga :  Piala DUNIA 2022 Dimulainya Era Sepak Bola Dunia Baru

Sebelumnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (15/5/2018) pagi kembali melemah. Dolar AS berada di Rp.14,025, melemah dibanding posisi Senin (14/5/2018) lalu yang berada di bawah Rp 14.000, yakni Rp 13.975.
Sebelumnya nilai tukar rupiah ditutup di kisaran Rp 13.965 pada penutupan perdagangan kemarin. Posisi rupiah sendiri masih terus bergerak volatile cenderung melemah sejak satu bulan terakhir. Sentimen negatif terus datang menjelang rencana Bank Sentral AS menaikkan suku bunga.

Sementara berdasarkan spot perdagangan mata uang hari ini, Senin (7/5/2018), mata uang rupiah ditutup melemah 56 poin atau 0,40 persen di Rp 14.001 per dolar AS. Padahal, saat pembukaan masih di posisi Rp 13.949 per dolar AS.

Mata uang rupiah telah melemah 2,99% sejak awal tahun (ytd) terhadap dolar Amerika Serikat (AS), atau berada pada level 13.960 pada akhir pekan (11/5/2018) lalu. Mengikuti pergerakan rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 6,28% (ytd) atau pada level 5.956,83.

Baca juga :  Rupiah Sudah Diatas Rp. 14.000 Per 1 US$

Pada Januari, nilai dolar AS sebenarnya terus menurun hingga menyentuh level terendah tahun ini di Rp 13.289 yang tercatat pada 21 Januari 2018, namun sejak sebulan terakhir dolar terus menguat sampai akhirnya menyentuh Rp 14.000 pada 7 Mei 2018 lalu, dan sempat menyentuh posisi tertinggi di angka Rp 14.081.

Sementara itu, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kurs rupiah berada di level Rp 13.956 per dolar AS. Angka itu makin merosot dibandingkan Jumat lalu yang Rp 13.943 per dolar AS.FUZ*