Kepergian Bupati ke Eropa Akan Sia-Sia

BOGOR, kabar1.com – Pengamat Tata Kota, Yayat Supriyatna ‘menantang’ Bupati Bogor Nurhayanti untuk melakukan eksekusi bangunan-bangunan melanggar di wilayah Kabupaten Bogor. Hal tersebut ia katakan untuk menjawab pertanyaan publik soal kepergian bupati ke Negara Eropa.

Yayat  menilai, kepergian Nurhayanti ke Eropa untuk meningkatkan kapasitas pejabat daerah dalam bidang perencanaan dan pengelolaan tata ruang dan wilayah tersebut akan sia-sia jika tak diimplementasikan.

“Kalau tidak berani ya buat apa (pergi ke Eropa), itu akan sia-sia. Yang penting itu eksekusi,” timpal salah satu Guru Besar Universitas Trisakti itu, Kamis (6/9/2018).

Diketahui, kepergian Nurhayanti ditemani oleh dua Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yakni Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Yani Hasan dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penelitian Pengembang (Bappeda Litbang) Syarifah Sofiah. Mereka pergi ke empat negara di Eropa, seperti Belanda, Belgia, Jerman dan Prancis.

Bupati Bogor Nurhayanti sendiri mengaku kepergiannya ke Benua Biru tersebut telah direstui Menteri Dalam Negeri (Mendagri) dan Sekretariat Negara (Setneg). Nurhayanti mengunjungi Belanda, Jerman, Belgia dan Prancis mengikuti ‘Executive Course on Urban Management and Local Economic Institute for Housing and Urban Development Studies (IHS) dan Studi Tiru Internasional.

Kegiatan itu, kata dia, merupakan program Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI). “Tujuan kegiatannya untuk meningkatkan kapasitas kepala daerah dan pejabat daerah soal perencanaan dan pengelolaan tata ruang wilayah,” kata Nurhayanti.

Menurutnya 15 bupati yang mengikuti giat ini juga mendapatkan pelatihan singkat mengenai sistem pengelolaan pemerintahan, pelayanan umum dan kiat-kiat pengembang perekonomian daerah, karena kegiatan yang dibiayai APBD itu sekaligus membentuk forum bisnis daerah.

Di Belanda, kata Yanti, ada beberapa lokasi penting serta bersejarah yang akan dikunjungi, diantaranya Courtessy Call ke Kedutaan Besar Republik (KBPRI) Belanda dan Belgia sekaligus menjalin kerjasama antara pihak KBRI sebagai penghubung Indonesia di luar negeri, dengan pemerintah di daerah.

Selain itu, sambung dia, rombongan juga ke Zaanse Schans (ZS) Zaandam di Belanda yang merupakan saksi sejarah dalam industri dan masuk daftar ERIH (European Route of Industrial Heritage).

Salah satu agenda penting di Belanda, mengunjungi Rotterdam, mengikuti kegiatan kursus yakni Executif Course on Urban Management and Local Economic Development di IHS (Institute of Housing and Urban Development Studies yang dahulunya adalah Bauw Centrum).

Informasi yang dihimpun PAKAR beberapa Bupati juga akan melaksanakan Studi Tiru Internasional di Belgia, Jerman dan Perancis. Di antaranya Kohl, kota sejarah dengan peninggalan gereja ‘Kolnerdom’ dan pernah menjadi ibukota Jerman Barat.

Kemudian Brussel, Belgia yang merupakan perpaduan antara kebudayaan Perancis dan Flemish (Belanda) dan merupakan pusat perdagangan cokelat dunia. Mereka juga akan melihat Pembangunan Industri Pengolahan Kulit Tas di Paris. Dimana sebuah merk Perancis membuka cabangnya di Pantin, di Seine-Saint-Denis, Rue Auger, tidak jauh dengan pusat Kota Paris.

Pos terkait