Kekerasan Seksual Terhadap Anak Marak di Bogor

BOGOR, kabar1.com – Kekerasan seksual terhadap anak kembali terjadi di wilayah Bogor. Peristiwa ini terus menambah daftar tindakan biadab yang mengundang rasa khawatir dan takut pada orangtua dan masyarakat. Kejadian semacam inipun mendapat perhatian dan keprihatinan, meski para pelakunya sudah dapat dibekuk aparat penegak hukum.

“Kita tentu prihatin atas hal ini. Saat inipun saya sedang banyak komunikasi dengan pihak-pihak terkait dulu. Karena ada beberapa korban yang sudah janji mau datang dan itu anak-anak smua lho,” ujar Euis Kurniasih Hidayat Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Bogor.

Baca juga :  Akan Tawuran, Puluhan Pelajar Diamankan Polsek Jasinga

Menurut Euis sapaan akrabnya, guna mendampingi korban kasus kekerasan, P2TP2A saat ini terus melakukan komunikasi dan koordinasi dengan berbagai pihak terkait. Diantaranya meminta bantuan psikolog dan relawan.

Dia menambahkan, kasus kekerasan seksual pada anak seharusnya dapat dicegah lebih dini dengan peran aktif orang tua dan keluarga dalam menjaga anak-anaknya.

Baca juga :  Amankan Mudik Lebaran, PT KAI Daops II Terjunkan 3000 Pasukan

“Orangtua juga harus memberikan perhatian yang cukup dan memberikan contoh teladan yang baik dalam kehidupan sehari – hari. Hak iru bisa dilakukan dengan cara menerapkan 8 fungsi keluarga dengan baik dan benar,” imbuhnya.

Masih kata Ketua Yayasan Wanoja Mitandang ini, keberadaan P2TP2A adalah sebagai komponen penanggulangan dan penanganan kasus kekerasan pada anak dan perempuan. Sementara komponen utama untuk melakukan pencegahan adalah orangtua dan keluarga.

“Lalu ada OPD, Ormas, LSM dan semua komponen masyarakat lainnya. Termasuk juga tentunya sahabat-sahabat media,” katanya.

Baca juga :  Wartawan Cianjur Minta Bupati Copot Kabag Humas

Euis menjelaskan, 8 fungsi keluarga yang harus dilaksanakan secara baik dan benar oleh orang tua diantaranya, peningkatan pendidikan umum dan pendidikan agama, sosialisasi dan komunikasi antar sesama anggota keluarga, pemenuhan kebutuhan ekonomi, pengawasan terhadap pergaulan dan lingkungandan lainnya.

“Jika peran orangtua dan masyarakat bisa maksimal, tentu akan sangat membantu dan mencegah terjadinya kekerasan pada anak atau perempuan.” tandasnya. (RIE)