Kejari Bekuk Terpidana Penipuan Saat Sedang Jualan Sembako

BOGOR, Kabar1.com – Jajaran Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Bogor bersama petugas TNI dan Kepolisian melakukan penangkapan terhadap Gunawan (67), terpidana dalam perkara penipuan jual beli tanah bernilai ratusan juta rupiah.

Gunawan ditangkap di sebuah rumah toko Sembako yang terletak di bilangan Jalan Lawang Saketeng, Kelurahan Gudang, Bogor Tengah, Kota Bogor, Kamis (23/11/2017) sekira pukul 09.00 WIB.

Saat hendak ditangkap petugas, terpidana sempat menolak dan melakukan perlawanan. Namun karena dibantu oleh Kepolisian dan TNI terpidana akhirnya dapat digiring ke Lapas Kelas IIA Bogor.

Penangkapan itu menyusul terbitnya putusan kasasi dari Mahkamah Agung (MA) tertanggal 5 Januari 2015 yang menyatakan bahwa terpidana dijatuhi vonis hukuman pidana dua tahun penjara.

Menurut Kepala Seksi Intelejen Kejari Kota Bogor, Widiyanto Nugroho, terpidana didakwa telah melanggar Pasal 378 KUHP atau 263 KUHP. Setelah terbitnya putusan kasasi dari MA, maka hari ini terpidana ditangkap di ruko tempatnya berjualan untuk menjalani hukum dua tahun penjara.

Baca juga :  Kades Pasir Kacapi Lupa Ingatan?

“Ini sempat kasasi, karena proses hukum yang panjang baru saat ini bisa diringkus setelah diketahui keberadaannya,” ujarnya saat dikonfirmasi di Kantor Kejari Kota Bogor.

Disamping terpidana, petugas menyita barang bukti berupa kuitansi pembelian sebidang tanah senilai Rp2,1 miliar. Foto copy turunan akte perjanjian jual beli dan akte jual beli (AJB). Ada pula kuitansi pembayaran uang muka Rp100 juta dan kuitansi tahan dua Rp700 juta.

Dijelaskan, kasus penipuan ini terjadi medio Maret 2006. Bermula dari adanya penjualan tanah seluas 12.564 meter persegi di Desa Pasir Laja, Sukaraja, Kabupeten Bogor. Berdasarkan sertifikat hak milik atas nama Gunawan Lukito yang akan dijual Rp125 ribu per meter persegi.

Baca juga :  BNN RI Laksanakan Pemusnahan Barang Bukti Narkotika Ketiga di 2020

Terpidana waktu itu mendapat informasi adanya penjualan tanah tersebut dari rekanan yaitu Sarifudin dan Suryagunawan. Total harga tanah dari pemilik adalah Rp1,4 miliar, selanjutnya terpidana ini akan menjual tanah tersebut seharga Rp175 ribu per meter persegi atau harga total Rp 2,1 miliar.

“Tanah itu ditawarkan ke Airin Puji Astuti dan Ratnawati. Bersama calon pembeli dicek ke lokasi dan kembali ke tempat pertemuan negoisasi. Ditanggapilah, bahwa harga tanah tersebut murah dan akan mendapat untung besar saat dijual kembali. Kemudian kedua pembeli yakin dan percaya, akhirnya keduanya bekerjasama untuk membeli tanah tersebut,” imbuhnya.

Setelah terjadi kesepakatan dari harga Rp2,1 miliar, Airin menyanggupi untuk membayarkan 50 persen, sedangkan Ratnawati 20 persen dan sisanya oleh terpidana 30 persen. Proses jual beli diurus oleh terpidana dengan menerima uang Rp1,4 miliar dari Airin dan Ratnawati.

Baca juga :  Blokir Jalan, Warga Parung Panjang Pasang Nisan Kuburan

“Uang tersebut kemudian diserahkan ke Gunawan Lukito. Untuk mengelabui Airin dan Ratnawati, kedua rekanan terpidana yaitu Srifudin dan Suryagunawan ke kantor notaris untuk membuat kuitansi AJB bermaterai dan ditandatangani oleh Gunawan Lukito,” ujarnya.

Lebih lanjut kata Widiyanto, kuitansi yang ditandatangani pemilik tanah itu dalam keadaan kosong. Sarifudin dan Suryagunawan bersama terpidana yang mengisi kuitansi senilai Rp2,1 miliar. Untuk mengecek kebenarannya, sambung dia, Airin dan Ratnawati mencoba menanyakan ke Gunawan Lukito.

Mendapati pemilik tanah tidak pernah membuat dan menandatangani kuitansi tersebut, Airin dan Ratnawati akhirnya melaporkan terpidana ke kepolisian karena telah merasa dikerugian Rp602 juta. Pelaporan dilakukan pada 15 Januari 2011.

“Saat ini kami sudah eksekusi dan terpidana ditahan di Lapas Paledang,” Widiyanto memungkas. (HRS)






Pos terkait