Kasus Kematian Grace, KPAI Tegaskan Akibat Pola Asuh Salah

BOGOR, kabar1.com – Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengunjungi Kepolisian Resor (Polres) Bogor, Selasa (29/5/2018). Kedatangan KPAI untuk melihat kondisi tersangka R (15) yang telah melakukan pembunuhan terhadap Grace Gabriella Bimusu (1/5/2018).

Ketua KPAI, Arist Merdeka Sirait mengatakan, setelah menemui dan berdialog dengan pelaku, dirinya merasa ada kesalahan dalam pola pengasuhan dan pendidikan yang diajarkan oleh orang tua R.

“Ada pola pengasuhan yang salah dari keluarga. Saya melihat ada tekanan yang dirasakan anak. Dia seperti terkekang,” kata Arist kepada wartawan usai berdialog dengan R di Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Bogor, kemarin.

Baca juga :  Polres Bogor Tangkap Maling Spesialis Rumsong

Arist mengungkapkan, kejadian ini harus menjadi warning bagi keluarga khususnya para orang tua. Menurutnya, keegoisan orang tua dalam mendidik tak jarang membuat anak menjadi nekat dan berbuat sesuatu di luar kesadarannya.

“Biarkan mereka bertumbuh dengan baik. Apa yang dilakukan pelaku adalah buah dari kesalahan pola pengasuhan. Ini berakibat fatal. Dan dia melakukan sesuatu di luar kesadarannya,” ungkap Arist.

Menurutnya, orang tua harus bisa dan mampu membedakan cara mendidik anak sesuau usianya. Misal anak berumur 0 sampai 5 tahun itu berbeda dengan mendidik anak berumur 6 hingga 12 tahun.

Baca juga :  Polres Cianjur Jemput Pelaku Penipu Investasi Bodong

“Nah R ini merupakan anak berusia 15 tahun. Artinya sudah menginjak remaja. Maka ketika ada kesalahan pola mengasuh, maka ia akan berbuat yang ia tau dan ia dengar. Karena energi tumbuh kembangnya tak keluar dengan sempurna,” tegasnya.

Sementara, Kepala Unit PPA Polres Bogor, Ipda Irene menuturkan, dalam kasus ini ada pendampingan khusu dari beberapa instansi. Selain itu juga ada konsultan psikolognya.

Baca juga :  DPR Nilai Pencekalan Habib Rizieq Shihab Sangat Aneh

Irene mengaku Polres Bogor lebih fokus kepada pendidikan secara hukum. Karena untuk mental keluarga itu dilakukan oleh KPAI. “Ini masih proses penyidikan. Maksimal pelaku di sini 15 hari. Setelah itu kita limpahkan ke kejaksaan,” tutur Irene.

Selama di tahanan, pelaku R hanya seorang diri. Irene mengungkapkan, hal tersebut dikarenakan tahanan anak harus dipisahkan dengan yang dewasa. “Sesuai prosedur, kita pisahkan dia (R) dengan pelaku dewasa. Sehingga dia hanya sendiri dan mengaku merasa kesepian,” tandasnya.FUZ