Harry Susanto : Sejarah Dan Karya Seni Dibalik Tragedi 27 Juli

Minggu, 29 Juli 2018 - 13:50 WIB

BANDUNG, kabar1.com – 22 tahun berlalu sudah, sejak Peristiwa kerusuhan 27 Juli atau yang biasa dikenal dengan “Kudatuli” (Kerusuhan duapuluh tujuh Juli). Sampai saat ini masih menyisakan teka teki hingga banyak tulisan yang dibukukan oleh beberapa penulis. Namun berbeda dengan seniman asal yogyakarta yakni, Harry Susanto, selain sebagai seorang seniman, dirinya juga ikut menyaksikan langsung pada saat tragedi Sabtu 17 Juli 1996 di Gedung DPP PDI Jakarta.

Sebagai seorang seniman, dirinya menuangkan peristiwa itu dengan menciptakan sebuah patung simbolik yang diberi nama “Tragedi 27 Juli”. Melalui Proses kreatif, karya seni Rupa khususnya seni patung memerlukan pemikiran yang serius guna merangkum gagasan, ide dalam benak seorang kreator atau seniman. Dalam mengungkapkan Imaji, nampaknya si seniman memerlukan waktu dan ruang sebagai media komunikasi antara si seniman sebagai pelaku seni dan karya sebagai hasil cerapan gagasan pemikiran.

Baca juga :  Empat Wartawan Sumbar Uji Kompetensi di Cianjur

Guna menterjemahkan pemikiran gagasan si seniman, salah satu faktor pendukung adalah lingkungan dimana seniman berada. Dalam situasi kontradiktif untuk mengambil sikap menentukan gagasan seniman harus konsisten dan terukur dalam menyampaikan wujud karyanya .

Sebagai seorang seniman, dirinya merasa punya kewajiban terhadap kondisi lingkungan sosial politik dan budaya secara Universal. Untuk itu, Karya yang disuguhkan / ditampilkan tidak hanya menyuguhkan bentuk Artistik semata tapi harus ada kedalaman gagasan visi dan misi sebuah karya seni. “Tentunya supaya ada keseimbangan dua kutub dialog antara Karya seni dan masyarakat maupun pengamat seni pada khususnya,” ujar Harry Susanto, Bandung, (Sabtu, 28/7).

Karya seni patung ini dibuat dan digagas sebagai jejak rekam ulang dalam mencari dan memaknai proses sebuah karya seni patung sebagai ungkapan pribadi seniman, supaya peristiwa/ tragedi manusia bisa ditandai sebagai sebuah karya seni.

Karya seni yang dibuat seminggu setelah kejadian tragedi Sabtu Kelabu tersebut, memiliki nilai historis dan simbolis pergerakan rakyat. “Patung yang digambarkan dengan seekor banteng dengan kondisi badan tak utuh, rupanya memiliki arti dan makna dibalik ketidak utuhannya,” ungkapnya.

Baca juga :  Ini Sejarah Kampung Coblong di Citeureup

Seekor banteng diartikan sebagai simbol rakyat, Karya sosok banteng yg tdk utuh ( rusak)  melambangkan/ mengisyaratkan bahwa rakyat dianiaya/ dirusak oleh rezim pemerintah (Orba). Sementara, terdapat dibokong seekor banteng nampak berbentuk topi baja yang melambangkan pada zaman rezim waktu itu, institusi kemiliteran digunakan sebagai tangan yang menindas rakyat dalam tragedi tersebut. “Dan, tanduk, mata, telinga yang sudah tak utuh digambarkan sebagai simbol pelemahan, hilangnya keluasan melihat, serta terbatasnya informasi yang didapatkan masyarakat negeri pada rezim tersebut,” tuturnya.

Harry Susanto : Sejarah Dan Karya Seni Dibalik Tragedi 27 Juli

Harry Susanto

Pematung Kelahiran Surabaya tahun 1954 ini adalah jebolan STSRI – ASRI (sekarang ISI)  Yogyakarta angkatan 77. Berbagai galeri di Jakarta, Jogja,  Magelang,  Bali dan tentu saja Bandung kota tempatnya berdomisili menjadi ajang pamer karya patungnya.

Baca juga :  Noviyanti Emban Misi Muliakan Seni Budaya Daerah

Berbagai penghargaan telah ia terima seperti lomba patung kreatifitas Yayasan Pengembangan Kreatifitas,  Lomba logo Kota Malang,  Even International Art Exhibition,  Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan dalam event Pameran Seni Patung,  Seni Kriya,  dan Seni Keramik Di Ganas Jakarta,  Anugrah Adipura Citra Raya 2004, sebagai Karya Potensial 1 Festival Seni Patung  di Ruang Publik Dimensi Jakarta  2006.  B

Beberapa karya publik telah ia buat,   diantaranya,  Patung potret Nyonya Meneer dan Pak Jenggot di Semarang, monumen Rumah Sakit Sularso di Pontianak, Museum Nasional di Kuching Malaysia,  Monumen pendiri RS. Husada Jakarta. Di 2018, karya patung Potret Xanana Gusmao di Museum Xanana Gusmao,  Dili Timor Leste.

Belakangan ini, melalui karyanya Harry banyak menyuarakan keprihatinannya terhadap ketidakadilan kehidupan sosial dan kecurangan politik yang mendera Indonesia. CUY

Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Share :

BERITA TERKAIT

Daerah

Remaja Cimanggis Antusias Sambut 1 Muharram

Komunitas

Jalin Sinergitas IWO Lebak Sambangi Beberapa Instansi Di Lebak

Komunitas

18 Tahun Jadi Ketua RT, Saprudin Tinggal di Gubuk Sebelah Kandang Kambing

Gaya Hidup

Yayasan Al Kahfi Santuni Yatim, Janda Jompo dan Dhuafa