Ini Pengakuan Warga Pasir Kacapi!

LEBAK, kabar1.com – Warga Desa Pasir Kacapi, Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak, akhirnya berani buka suara terkait dugaan pungutan liar (Pungli) yang melibatkan sejumlah oknum pemerintahan desa.

Pada intinya, warga tidak mengetahui apa itu program PTSL. Mereka hanya diberi tahu ada program pembuatan surat tanah dari pemerintah. Untuk memproses hak legalitas kepemilikan tanah itu, warga pun dibebankan sejumlah biaya.

“Saya sendiri habis Rp700 ribu. Jadi total bersama warga lainnya, 5 orang itu Rp3.500.000,- tapi baru terbayar Rp3.450.000,- kurang Rp50 ribu. Tapi kita minta kebijakanlah sama desa,” papar seorang warga yang namanya enggan disebutkan kepada kabar1.com.

Baca juga :  Tewas Terlindas Fuso, HVC Rangkasbitung Berduka

Warga lainnya yang ada dilokasi juga menjabarkan, proses administrasi untuk mendapatkan legalitas hak tanah mereka diawali dengan surat hibah. “Surat hibah mah dapat. Tapi katanya gratis, lalu SPPT belum karena uang saya kurang. Baru masuk Rp1.350.000,-. Saya juga dijanjikan tingkat selanjutnya untuk sertifikat tanah oleh salah satu staf desa,” sebutnya.

Namun warga merasa curiga. Karena dari sejumlah aparat yang hadir, ada satu orang yang diakui katanya orang BPN. Tapi setelah dilakukan pencarian ke kantor BPN, petugas disana menyebut tak ada orang yang dimaksud warga. “Lalu saya ke kecamatan. Kata orang kecamatan katanya orang itu mah mafia,” paparnya.

Baca juga :  BNN Sita Ratusan Kilo Ganja di Lampung Tengah

Entah siapa yang dimaksud. Warga itu juga melanjutkan, sejatinya ia tak paham dengan prosedur hak kepemilikan tanah. “Banyak juga yang ga lanjut karena gak punya uang. Tapi kalau barangnya (sertifikat-red) jadi, ya kami pasti bayar,” ungkapnya.

Senada warga lainnya juga mengungkapkan hal serupa. Kendati tak secara lantang mengaku telah tertipu, ia tetap kecewa. “Kami mah hanya minta kejelasan saja sekarang mah. Awalnya saya bayar Rp200 ribu tapi minta lagi Rp500 ribu. Saya ga pegang uang. Apalagi pas ke desa, ada yang 5 orang diminta Rp3.500.000,- saya mundur karena cuma bawa Rp600 ribu. Lagi pula saya liat juga kuitansinya tulisan tonggong lah kalau kata orang dulu mah, jadi saya mundur,” bebernya.

Baca juga :  Akhir Perjalanan Gembong Narkoba Jaringan Internasional Berakhir Ditangan Petugas BNN

Seperti diketahui, Pungutan liar (Pungli) yang dilakukan anak Kepala Desa Pasir Kacapi, Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak, ternyata cukup bervariatif, mulai dari Rp500 hingga Rp3 juta tergantung luas tanah.

Informasi yang didapat dilapangan, besaran uang itu akan dipergunakan untuk kebutuhan transportasi, administrasi dan dana ukur yang akan dilakukan pihak BPN Kabupaten Lebak.






Pos terkait