Ini Loch, Sejarah Awal Pelacuran di Indonesia

BOGOR, kabarsatu.com – Siapa sangka, jika pelacuran di Indonesia juga memiliki sejarah. Dari penelusuran kabarsatu.com di dunia maya, rupanya ada asal usul soal hadirnya sisi kehidupan umat manusia di muka bumi ini.

[nk_awb awb_type=”image” awb_image=”11″ awb_image_size=”full” awb_parallax=”scroll” awb_parallax_speed=”0.2″ awb_parallax_mobile=”true”]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[/nk_awb]

Ya, menurut sebuah fakta mencengangkan pun mengumuli ikhwal cerita pelacuran di dunia, tak terkecuali Indonesia. Sebuah hal yang tentunya membuat praktik pekerja seks komersial, memang sulit dihapuskan begitu saja. Wanita tunasusila ini sendiri punya akar sejarah yang lumayan panjang pada masyarakat Indonesia.

Seorang Profesor Demografi dari Australian National University, Terrence Hull dalam penelitiannya yang berjudul From Concubines to Prostitutes, A Partial History of Trade in Sexual Services in Indonesia, mengatakan, asal-usul prostitusi modern di Indonesia dapat ditelusuri dari zaman kerajaan Jawa.

Dalam risetnya, Hull menyebut, pada saat itu, ‘komoditas’ perempuan merupakan bagian integral dari sistem feodal. Hal ini bisa dilacak pada kerajaan Mataram yang terbentuk pada tahun 1755. Kala itu, konsep kewibawaan raja sangat luas dan berkuasa.

“Mereka sering digambarkan sebagai pemilik segalanya; tidak hanya tanah dan harta benda, tapi juga kehidupan rakyatnya. Dalam kasus wanita, ini adalah atribusi yang sering diambil secara harfiah,” ungkap Hull dalam tulisannya tersebut.

Baca juga :  Ekonomi Negara Makin Memburuk

Hull juga menjelaskan, tingkat kekuatan besar raja diwakili oleh seberapa banyak selir yang dimiliki. Beberapa selir adalah putri bangsawan yang diberikan kepada raja sebagai tanda kesetiaan mereka. Sementara yang lainnya adalah upeti dari kerajaan lain; dan banyak wanita kelas bawah yang dijual atau diberikan oleh keluarga mereka untuk mengambil posisi kecil di rumah tangga kerajaan.

Perlakuan terhadap wanita sebagai komoditas tidak hanya terbatas di Jawa, namun kenyataannya umum di seluruh Asia, di mana perbudakan, sistem indenture dan perbudakan seumur hidup adalah bentuk feodal yang umum.

Di Bali janda kasta rendah tanpa dukungan keluarga yang kuat otomatis menjadi milik raja. Jika dia memilih untuk tidak memasukkannya ke dalam rumah tangganya, dia dikirim ke pedesaan untuk bekerja sebagai pelacur. Bagian dari pendapatannya harus dikembalikan secara teratur kepada raja.

Bentuk industri seks yang lebih terorganisasi juga makin berkembang pesat selama masa penjajahan Belanda. Sistem perbudakan dan pergundikan tradisional disesuaikan dengan kebutuhan dan adat istiadat masyarakat Eropa yang didirikan di wilayah pelabuhan nusantara, dengan kepuasan seksual tentara, pedagang dan utusan menjadi salah satu isu prioritas dalam benturan budaya asing.

Baca juga :  Hingga Sabtu, 14 Maret Pukul 19.00 WIB, Kasus Positif Covid-19 di Indonesia Capai 96

“Dari awal, isu ini menimbulkan banyak dilema bagi penduduk asli dan orang Eropa. Di satu sisi, sejumlah besar pria lajang dibawa ke Indonesia oleh bisnis kolonial dan pemerintah menghasilkan permintaan untuk layanan domestik dan seksual, yang mudah dipuaskan oleh keluarga dengan anak perempuan dan perempuan yang dicari yang mencari keuntungan material dari pendatang baru,” Tulis Hull.

Sementara itu, di sisi lain, baik masyarakat asli maupun masyarakat kolonial menganggap bahaya pada hubungan antar ras yang tidak diatur. Karena itu perkawinan formal tidak dianjurkan atau dilarang, dan perselisihan antar ras dikutuk tapi diterima sebagai kebutuhan diam-diam.

“Dalam konteks ini, persekongkolan yang tidak stabil dan tidak adil serta hubungan komersial langsung adalah pilihan yang tersedia bagi pria Eropa, dan ditoleransi oleh pemimpin mereka,” kata Hull.

Lebih jauh, perluasan perkebunan terutama di Jawa Barat, pertumbuhan industri gula di Jawa Timur dan Jawa Tengah, pembentukan perkebunan di Sumatera dan pembangunan jalan dan kereta api melibatkan migrasi pekerja laki-laki yang cukup banya. Ini menciptakan permintaan untuk layanan pekerja seks.

Selama pembangunan perkeretaapian yang menghubungkan kota-kota Jawa di Batavia, Bogor, Cianjur, Bandung, Cilacap, Yogyakarta dan Surabaya pada tahun 1884, pelacuran tidak hanya berkembang untuk melayani pekerja bangunan, tetapi juga di setiap kota besar yang dilayani oleh kereta api, kedatangan penumpang kereta api meningkatkan permintaan akan papan dan penginapan dan juga untuk layanan seksual.

Baca juga :  36 Pegawai Disdik Wilayah VI Jabar Bakal Dikarantina

Sebagai contoh, di Bandung, kompleks pelacuran dikembangkan di beberapa lokasi yang dekat dengan stasiun, termasuk Kebon Jeruk, Kebon Tangkil, Sukamanah dan Saritem. Di kompleks pelacuran Yogyakarta, juga didirikan di kawasan Pasar Kembang, Mbalokan dan Sosrowijayan.

Lebih jauh, perluasan perkebunan terutama di Jawa Barat, pertumbuhan industri gula di Jawa Timur dan Jawa Tengah, pembentukan perkebunan di Sumatera dan pembangunan jalan dan kereta api melibatkan migrasi pekerja laki-laki yang cukup banya. Ini menciptakan permintaan untuk layanan pekerja seks.

Selama pembangunan perkeretaapian yang menghubungkan kota-kota Jawa di Batavia, Bogor, Cianjur, Bandung, Cilacap, Yogyakarta dan Surabaya pada tahun 1884, pelacuran tidak hanya berkembang untuk melayani pekerja bangunan, tetapi juga di setiap kota besar yang dilayani oleh kereta api, kedatangan penumpang kereta api meningkatkan permintaan akan papan dan penginapan dan juga untuk layanan seksual.

Itulah sekilas mengenai cerita sejarah asal usul pelacuran di Indonesia. FUZ