Ini Jejak Rekam ‘Si Raja Ngecor’ dari Bogor

Home / Potensi Wilayah

Rabu, 19 September 2018 - 23:33 WIB

CIMAHI, kabar1.com – Sudah 40 pabrik pembuang limbah ke Sungai Citarum, mulai dari Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, hingga Rancaekek-Sumedang, ditutup paksa pria kelahiran Bogor ini. Beragam sanksi sosial pun telah dijatuhkan kepada para perusak ekosistem alam tersebut.

Kendati hal ini dilakukannya berdasar pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 15 Tahun 2018, namun tindakan nyatanya tetap wajib diacungi jempol. Ya, tindakan yang pada akhirnya memberinya julukan sebagai ‘Si Raja Ngecor’ oleh para pelaku usaha yang ia tindak.

Dialah Kolonel Inf. Yusep Sudrajat, Komandan Sektor (Dansektor) 21. Pria tegap ini memang seakan tak pernah kehabisan ide dan cara untuk mengembalikan kelestarian ekosistem sungai, sesuai tugas dan fungsi sebagai Satgas Pengendalian Ekosistem Sungai dalam program Citarum Harum.

Banyak industri rumahan, industri nasional, hingga industri skala internasional pernah merasakan sikap tegas dan tindakan tanpa tebang pilih yang ditunjukkan oleh Dansektor kelahiran Kota Bogor ini.




tbn
Ini Jejak Rekam ‘Si Raja Ngecor’ dari Bogor

Suryadi | kabar1.com

Untuk kali pertama, Dansektor 21 memberikan sanksi sosial terhadap pabrik yang kedapatan buang limbah kotor ke sungai. Sanksi sosial pertama kali diterapkan kepada PT Nisshinbo Indonesia, sanksi sosial yang diberikan adalah membersihkan sungai Cisangkan yang berada tepat dibelakang area pabrik, yang digunakan sebagai tempat membuang limbah cair perusahaan tersebut.

Baca juga :  Palang KA dari Bambu di Parung Panjang Telan Korban

“Ini baru pertama kali diterapkan, pabrik ini kami tutup saluran pembuangan limbahnya karena kedapatan buang lumpur ke sungai. Hukuman sosial ini spontan saya berikan dan pihak perusahaan bersedia. Tepat hari ini, karyawan perusahaan bersama anggota satgas dan masyarakat terjun ke sungai melakukan kegiatan kerja bhakti membersihkan sampah yang ada di sungai Cisangkan,” jelas Dansektor 21 disela kegiatan, Rabu (19/9/2018).

Baca juga :  Repdem Sukses Punguti Ratusan Kilo Sampah Plastik Puncak

“Kami berharap kegiatan ini memberikan kesadaran dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan disekitarnya bagi pelaku industri. Selain itu, kegiatan ini bisa menjadi momentum awal antara perusahaan dan warga dalam membangun kerjasama dalam menjaga kelestarian lingkungan,” tambah Dansektor.

Meski ini adalah salah satu bentuk sanksi karena perusahaan kedapatan buang limbah kotor, bukan berarti kegiatan ini dapat menjadi ukuran Satgas Sektor membuka tutupan pada lubang pembuangan limbah pabrik.

“Hukuman sosial ini tidak mempengaruhi keputusan dalam membuka coran lubang limbah, karena keputusan membuka diukur dari limbah yang dikeluarkan sudah bening dan ikan yang ada diujung outlet pembuangan bisa hidup,” pungkasnya.

Ditemui di lokasi kegiatan, Presiden Direktur PT Nisshinbo Indonesia, Mister Takamori mengatakan bahwa kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab dan dukungan terhadap program citarum yang dicanangkan oleh presiden Joko Widodo.

Ini Jejak Rekam ‘Si Raja Ngecor’ dari Bogor

Suryadi | kabar1.com

“Manajemen jepang melihat program ini perintah dari presiden Jokowi, oleh karena itu perusahaan ingin mendukung dalam mensukseskan program ini,” ujar Presdir melalui Kristin selaku Manager Operasional.

Baca juga :  Optimalkan Daya Tampung, Jamaah An-Nabaa Renov Musholanya

Kedepan, pihak perusahaan juga berjanji akan bekerjasama dengan masyarakat dalam menjaga lingkungan, membantu memfasilitasi apa yang dibutuhkan warga agar tidak lagi membuang sampah ke sungai.

Terkait tindak lanjut pembenahan IPAL yang dilakukan PT Nisshinbo Indonesia, Kristin menjelaskan bahwa saat ini perusahaan sudah melakukan perbaikan dengan mengganti pompa yang rusak di pengolahan biologi yang telah menyebabkan limbah yang dibuang bercampur dengan lumpur ke sungai.

“Kami sudah panggil teknisi dan mengganti alat pompa yang rusak. Jadi kami bukan sengaja buang lumpur, ini semua murni karena ada kerusakan alat pada pengolahan biologi,” pungkasnya.