Home / Daerah / Kesehatan

Selasa, 25 September 2018 - 12:02 WIB

Hanya 210 Kasus DBD, Sekdinkes Kabupaten Cianjur Klaim 2018 Menurun

CIANJUR, Kabar1.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur menyebutkan angka kematian akibat Demam Berdarah Dengue (DBD) masih di bawah batas darurat. Namun berbagai upaya akan dilakukan untuk menekan jumlah penyebaran dan kasus DBD di Cianjur, dimulai dengan pola hidup bersih dan sehat.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Agus Haris, mengatakan, setiap tahunnya temuan kasus DBD di Kota Santri ini terus menurun, dimana pada 2016 tercatat ada 560 kasus DBD dengan 2 penderita meninggal dunia, sedangkan 2017 ada 300 kasus namun tak ada korban meninggal, dan pada 2018 tercatat hanya 210 kasus dengan 1 orang anak yang mengidap DBD meninggal dunia.

“Setiap tahun menurun, bedanya dengan tahun lalu ditemukan ada yang meninggal di tahun ini, yakni yang kejadian kemarin di Sukaluyu, tapi secara umum angkanya terus menurun,” kata dia saat ditemui di ruangannya, Senin (24/9).

Baca juga :  Innalillahi, Balita 2 Tahun Penderita DBD Meninggal

Menurutnya, antara jumlah kasus dan angka korban meninggal akibat DBD masih di batas aman, dimana jika sudah sangat berbahaya angka korban meninggalnya di atas 5 persen.

“Kalau sekarang kan masih di bawah 1 persen, jadi masih batas aman namun tetap akan dilakukan penanganan,” kata dia.

Di Sukaluyu misalnya, pihak Dinkes mengaku sudah turun tangan dengan melakukan fogging di kawasan yang ditemukan DBD. Bahkan kegiatan itu digelar bersama unsur Muspika Sukaluyu.

Namun, lanjut Agus, pengasapan tersebut bukan solusi utama untuk mencegah penyebaran DBD. Pola hidup bersih dan sehat menjadi senjata utama untuk mencegah dan menekan pertumbuhan DBD hingga penyebabnya.

Baca juga :  Ini Cara Rekruitmen Panwascam Pilkada 2020 Oleh Bawaslu Banten

“Kalau fogging kan hanya di area tertentu dengan sasaran nyamuk dewasa, tetapi dari jentik itu bisa ditangani dengan kebersihan lingkungan. Seperti rajin menguras bak mandi, mengubur barang bekas yang berpoensi jadi kubangan air, dan lainnya. Kesadaran itu yang perlu ditanamkan,” kata dia.

Untuk daerah endemis DBD, ungkap dia, sudah dijalankan program dan kesadaran terkait pola hidup bersih dan sehat. Bahkan sudah dibentuk juga kader dari puskesmas untuk menyosialisasikannya.

“Sebenarnya Sukaluyu bukan endemis, tapi dengan ada temuan ini kami akan coba dalami dan siapkan langkah lebih lanjut ke depannya,” ucap dia.

Agus menambahkan, pihaknya akan menyurati setiap puskesmas untuk melakukan pemeriksaan dan observasi terhadap warga yang panas tinggi. Sebab dikhawatirkan merupakan gejala DBD.

Baca juga :  Tim Siluman Ringkus Pelaku Pesta Narkoba¬†

Tapi dia juga mengimbau warga untuk mengetahui gejala penyakit DBD, dari awal hingga amsa kritisnya. Seperti demam tinggi, ataupun tanda-tanda lainnya.

“Dinas akan keluarkan surat ke setiap puskesmas terkait DBD ini, mengingat kasus akan banyak muncul di masa peralihan musim seperti saat ini,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Fatimah Azahra (2) anak pasangan Uyon (47) dan Atik (41) warga Kampung Cibakung, Desa Selajambe, Kecamatan Sukaluyu meninggal dunia setengah menjalani perawatan di rumah sakit. Diduga balita tersebut menderita demam berdarah (DBD).

Selain itu,  sejak beberapa hari terakhir diterima tiga informasi adanya warga Cibakung yang diduga terjangkit DBD, sehingga dia berharap ada penanganan serius dari dinas.

Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Share :

BERITA TERKAIT

Daerah

Summarecon Bandung Fasilitasi Mudik Gratis Buruh Pekerja
Putus Mata Rantai Covid - 19, Koramil Jasinga Terapkan Warga Pakai Masker

Kesehatan

Putus Mata Rantai Covid – 19, Koramil Jasinga Terapkan Warga Pakai Masker
Tingkatkan Disiplin Prokes, Koramil Jasinga Bersama Muspika Gelar Razia Masker

Kesehatan

Tingkatkan Disiplin Prokes, Koramil Jasinga Bersama Muspika Gelar Razia Masker
Penumpang Commuterline Ditest Swab

Kesehatan

Penumpang Commuterline Ditest Swab