Hadiri OKK PWI Kota Bogor, Bima Arya: Tantangan Politisi dan Wartawan Itu Sama

Home / Komunitas / Politik / Sosok

Minggu, 1 November 2020 - 19:00 WIB

BOGOR – Walikota Bogor Bima Arya menilai adanya kesamaan karakteristik sosok wartawan dan  seorang politisi.

Hal ini dipaparkan saat membuka perhelatan Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Bogor di Ballroom Hotel Bogor Valley, Sabtu (31/10/2020).

Menurutnya, politisi dan wartawan dibagi menjadi dua orientasi, yakni mata pencaharian dan pengabdian.

“Tapi irisannya seringkali tidak hitam putih seperti itu. Ada pekerjaan yang orientasinya mata pencaharian, tetapi ada komponen pengabdian. Sebaliknya, ada juga yang sebetulnya semangatnya pengabdian, tapi muncullah mata pencaharian disitu,” ungkap Bima.

tbn
Baca juga :  Soal Omnibus Law, Apeksi Sampaikan Catatan untuk Presiden

Menurut Bima, ada tiga tantangan dan godaan utama yang kerap menghampiri politisi dan wartawan.

“Pertama adalah tantangan untuk menjaga nurani. Politisi senior, founding father kita, dan wartawan senior semuanya adalah orang-orang yang berhasil istiqomah menjaga nurani. Dari mulai kiprah awal sampai menutup mata, nuraninya betul-betul terjaga. Jauh dari pragmatisme,” kata Bima.

“Wartawan dan politisi sama. Godaannya adalah terjebak pada kepentingan owner. Kalau politisi, siapa ownernya, ya ketum partai. Kalau ketum partai bilang A padahal nurani kita B, maka kemudian nurani kita tergadaikan. Kepentingannya apa? Bisa kepentingan politik, bisa kepentingan bisnis. Teman-teman wartawan juga begitu. Wartawannya idealis tapi kalau ownernya pragmatis disitulah pertarungannya. Makanya kemudian banyak politisi yang membangkang. Banyak wartawan yang keluar. Wartawan tidak mungkin membangkang, karena (kalau membangkang) dikeluarkan,” jelas Bima.

Baca juga :  HMI MPO Bogor Nilai Nawacita Jokowi Tak Sesuai dengan Implementasinya

Kemudian, lanjut Bima, ada kesamaan lain dari politisi dan wartawan. Di mana, dahulu itu tidak mudah jadi politisi, juga jadi wartawan tidak mudah.

“Karena semua tersortir oleh seleksi alam pengabdian tadi. Hari ini menjadi politisi, ibarat kayak daftar kerja. Mau Pilkada, kumpulin modal, daftar, jadi politisi. Pencalegan, daftar, jadi politisi, padahal seumur-umur tidak pernah menyentuh politik, tetapi karena proses singkat, masuk dia jadi politisi,” terangnya.

Baca juga :  Demokrat Koalisi dengan PPP?

“Sama wartawan juga begitu. Dulu tidak mudah, ada proses ini, proses itu, pelatihan, sertifikasi, jadi kalau sudah melewati itu semua, teruji. Hari ini kan gampang. Banyak juga yang ngaku pers, kalau jawabannya dari pers sudah tahu berarti ini abal-abal. Biasanya kalau wartawan ditanya langsung disebut medianya. Karena ada kebanggan korps tadi. Banyak yang instan sekarang ini, baik politisi maupun wartawan,” tandas Bima.