Guneman Gelar Pelatihan Swasunting Naskah

BANDUNG, kabar1.com – Guneman menggelar pelatihan swasunting naskah pada Minggu (1/10) di Aula lantai 4 Gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat, Jalan Kawaluyaan Indah II No. 4 Bandung. Kegiatan tersebut diikuti oleh 48 peserta yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat. Peserta ada dua katagori, yaitu para jurnalis Guneman daerah dan umum.

Dalam pelatihan tersebut menghadirkan dua narasumber, yaitu Tendy K. Somantri dan Èsèp M. Zaini. Tendy yang merupakan jurnalis senior, menyampaikan materi Dasar-dasar Penyuntingan. Sedangkan, Èsèp yang juga sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Guneman, memaparkan langkah-langkah penyuntingan naskah yang akan diterbitkan dalam bentuk buku. “Pelatihan ini bertujuan untuk merekrut staf redaksi majalah Guneman dan editor Guneman PUBLISHER,” ucap Oesep Kurniadi selaku ketua panitia.

Baca juga :  Meriahnya Gebyar 1 Muharram Desa Waringin Jaya

Acara dibagi tiga sesi. Sesi pertama, menampilkan narasumber Tendy K. Somantri, mulai pukul 09.00 – 12.00. Sesi kedua, menampilkan Èsèp M. Zaini, mulai pukul 13.00-15.00. Dan, sesi ketiga, praktik menulis, menyunting dan mempresentasikan hasilnya.

Tendy mengungkapkan hal pokok dalam penyuntingan, yaitu logika bahasa, rasa  bahasa, dan ejaan. “Penyunting harus mampu memperbaiki logika bahasa dalam naskah dengan kalimat yang efektif. Rasa bahasa pun harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang dimaksud. Jangan sampai menimbulkan efek yang dirasa tidak baik. Dan, terakhir harus memperhatikan ejaan yang benar. Penyunting harus selalu berpedoman pada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).” Demikian ungkap Tendy.

Baca juga :  Pemuda Pengangguran di Bogor, Cabuli Belasan Bocah Ingusan

Memasuki sesi kedua, suasana semakin menghangat. Dengan penampilan necis, narasumber kedua memompa semangat para peserta. Èsèp memfokuskan materi penyuntingan pada naskah karya sendiri yang akan diterbitkan dalam majalah dan buku. “Menulislah dengan cepat saat menumpahkan ide-ide. Jangan takut salah. Jangan membaca kata-kata atau kalimat yang sudah ditulis, sebab akan menghambat penangkapan ide yang berhamburan dari kepala dan dada. Juga, suka tergoda untuk menghapus dan mengganti kata-kata yang sudah. Tenang saja, ada saatnya untuk menyunting naskah yang telah selesai kita tulis. Kita bisa melakukan penyuntingan beberapa kali. Suntingan pertama, fokus pada tanda baca untuk menentukan kalimat. Suntingan kedua, fokus pada pemilahan paragraf. Suntingan ketiga, fokus pada logika bahasa. Suntingan keempat, fokus pada rasa bahasa. Suntingan kelima, fokus pada gaya bahasa, metafora dan diksi. Suntingan keenam, fokus pada ejaan. Dan, terus bisa berlanjut hingga tulisan terasa lebih halus dan enak dibaca.” Demikian papar Èsèp penuh antusias. “Untuk memperkaya kosakata, penulis atau penyunting harus bersahabat dengan tesaurus,” imbuhnya.

Baca juga :  Puncak Dua Gagal, Dewan Salahkan Pemkab Bogor

Sesi ketiga, para peserta melaksanakan praktik menulis. Lalu hasilnya ditukar dengan teman sebelahnya. Mereka saling menyunting karya tulis temannya. Panitia memberi waktu masing-masing selama sepuluh menit untuk menulis dan menyunting. Selanjutnya, mereka mempresentasikan hasil pekerjaannya.

Kegiatan Pelatihan Swasunting Naskah diakhiri dengan penyematan pin berlogo Guneman sebagai tanda mereka menjadi bagian dari Guneman. Baik sebagai redaksi, editor maupun pemasaran. Pelatihan ditutup pada pukul 16.30.ÈMZ*