Gemerlap Puncak dan Magnet Pemandu Lagu

LAPORAN KHUSUS : MUHAMMAD ILYAS

BOGOR, kabarsatu.com – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Bogor baru saja sukses merazia puluhan wanita yang diduga Pekerja Seks Komersil (PSK) di kawasan Puncak, Cisarua, Jumat (22/9/2017) dinihari lalu.

Namun, kendati aksi ini kerap dilakukan, bukan berarti kawasan itu bersih dari para penjaja cinta sesaat ini. Ya, kehidupan malam di Puncak memang tak habis dikupas dalam seribu episode.

Lika-liku dunia malam Puncak selalu menyuguhkan hal baru, dari mulai kawin kontrak hingga hubungun sejenis terus mewarnai wilayah udara sejuk ini. Dan yang terbaru dan tentunya memaksa jakun lelaki menelan ludah adalah, eksotisme para Pemandu Lagu (PL) yang menghiasi sejumlah Tempat Hiburan Malam (THM) di Puncak.

Seperti di salah satu THM di bilangan Jalan Raya Puncak, Cisarua dan Megamendung. Tempat karaoke yang berada di sebelah kanan jalan ini dikenal dengan jumlah PL yang mencapai puluhan wanita.

Rasa penasaran pun menggemuruh di dada untuk berkunjung ke lokasi itu. Tak peduli hujan lebat yang disertai tiupan angin sembari diselingi kilatan guntur yang menyala-nyala, membuat suasana hati menjadi khawatir sedikit berlebih.

Namun rasa waswas itu sirna seketika. Kala memasuki lobi karaoke tersebut. Tak terdengar lagi gemuruh halilintar. Yang ada hanya kemerlip lampu dan musik house menghentak. Menoleh ke samping, mata dimanjakan oleh rentetean lady escort yang terpampang di sofa muka THM.

Baca juga :
Soal PSK di Bogor, Bukan Cuma Puncak

Gelagak tawa genit menyapa satu sama lain. Menarik perhatian setiap tamu karaoke yang datang. Sesekali sorotan mata mereka tajam. Tak berkedip kala sejumlah tamu pria yang datang di loby THM.

“Silahkan masuk room 4. mau pakai PL gak?. Kalau mau nanti saya panggilkan,”ucap seorang pelayan karaoke berambut lurus itu.

Lima menit menunggu, pintu room terbuka. Nampak wanita paruh baya membawa 15 wanita ke dalam room. Mereka berjejer sembari memberikan senyuman sensual. ” Silahkan, mau pilih yang mana,” ucap seorang mami yang membawa para PL tersebut.

Akhirnya, tamu pun memilih dua dari 15 PL yang disajikannya. Pertama, wanita berkulit zaitun denga rambut lurus sebahu menyapa. “Halo. Sherli (bukan nama sebenarnya-red),”mengenalkan diri. Kedua, wanita mengenakan mini dress menyapa. “Halo aku Sinta (nama samaran-red),” katanya

Kedua LC tersebut nampak cekatan kala berada di dalam room. Kegenitan menyapa berharap bisa mendapatkan tips dari para tamu karaoke. Begitupun kala bernyanyi. suara mendesah dipadu goyangan sensual, menjadi nilai jual mereka.

Baca juga :
41.437 Kendaraan Naik Ke Puncak

“Iya, jadi LC itu ada syaratnya. Selain seksi, bisa nyanyi dan bisa striptis,” ujar Sherli sambil menggoda dengan sedikit kegenitan mata kecilnya.

Dari Sherli pula, kawasan Puncak ini kini lebih dikenal dengan gudang LC atau PL. Seluruh karaoke baik THM maupun Hotel menyediakan LC. Baik menemani di room, Hold, maupun diatas ranjang.

“Jumlah PSK sama PL banyakan PL. PSK gak sampe 200 cewek. Kalau PL yang ada di Puncak bisa sampai 400,”ujar wanita yang tergabung dalam kumpulan PL Puncak.

Namun kata Sherli, untuk menemani diatas ranjang tidak semua LC mau. Para LC memilah-milah untuk urusan menemani pasca karaoke. Biasanya tamu muda yang mendapat layanan diatas ranjang.

Dengan catatan sang LC suka dan tamu mau menunggu hingga LC pulang. “Kalau diatas ranjang bisa. Tapi harus nunggu aku pulang dulu,” tuturnya.

Dari bisnis LC ini pun cukup menggiurkan. Perputaran uang melebihi bisnis prostitusi gang semen. Data yang dihimpun mencatat, perputaran uang mencapai RP 192 juta per malam (akumulasi harga sewa PL dikalikan jumlah PL dikalikan Jam operasional PL red).

Belum lagi dengan uang tips sebesar RP 140 juta per malam (dari jumlah PL dikalikan minimum tips red). “Kalau tips, semalam paling kecil Rp 400 ribu. Kalau lagi rame sampai Rp700 ribu,”ujar Sherli.

Baca juga :
Degradasi Lahan Puncak Akibat Ulah Manusia

Belum lagi jajan dan minum PL. Dimana sejumlah PL kerap meminta minumam dan rokok dengan harga RP 100 ribu per PL. dalam semalam perputaran uang jajan PL mencapai Rp 40 juta. “Ya jajan, paling rokok sama minum. Itu masuk bil tamu karaoke,”tuturnya.

Dari semua itu, perputaran uang PL di THM yang ada di Puncak mencapai Rp 372 juta permalam. Maka tak heran, jumlah wanita yang menjadi PL atau LC dikawasan puncak melonjak.

Sementara itu dari kacamata sosiolog mengatakan bahwa, meningkatnya jumlah PL atau LC di kawasan Puncak terjadi akibat keinginan mendapatkan uang dengan lebih instan. Terlebih beban hidup yang meningkat, ditambah gaya hidup glamour dikalangan wanita remaja saat ini menjadi pemicunya.

“Ini dampak dari gaya hidup hedonisme dikalangan remaja. Bukan lagi soal memenuhi kebutuhan hidup,” ujar Sosiolog UI Fuxie.

Lebih lanjut Fuxie mengatakan gaya hidup yang berlebihan meningkatkan rasa ingin memiliki yang tinggi. hal ini membuat berbagai cara dilakukan. Termasuk menjadi seorang pemadu lagu di tempat hiburan malam. “Mereka mencari cara instan untuk memenuhi gaya hidup mereka,” tandasnya.(*)

tutup

Ad Blocker Detected!

Refresh