FBI Eksekusi Surat Perintah Penggeledahan Rumah Marliem

JAKARTA, kabar1.cm – KPK mengharapkan Marliem kembali keesokan harinya untuk menandatangani kesepakatan. Tapi pada hari itu Marliem mengatakan tidak akan melakukan hal tersebut. Dia mengatakan kepada KPK bahwa dia telah berbicara dengan seseorang di Indonesia pada malam sebelumnya, yang memperingatkan dia untuk tidak memberikan informasi yang disepakati sampai dia mendapatkan jaminan lebih lanjut dari KPK.

Tekanan pada Marliem meningkat pada 8 Agustus. FBI mengeksekusi surat perintah penggeledahan rumah yang dia sewa di Edinburgh Avenue. Holden mengatakan bahwa dia dan dua agen FBI lainnya kemudian menemukan Marliem di sebuah hotel dekat Bandara Internasional Los Angeles, di mana dia setuju untuk berbicara.

Baca juga :  Rekrutmen Calon Komisioner, KPK Rangkul BNN

Holden mengatakan, Marliem menegaskan bahwa dia telah terlibat dalam skema penyuapan, namun membantah bahwa dia telah menggunakan uang yang dia terima untuk membayar suap.

“Tapi ketika ditekan mengapa dia mengatur pembayaran secara tunai dan apa yang dia lakukan dengan uang tunai itu, akhirnya dia menjelaskan secara mendadak bahwa dia diinstruksikan oleh seseorang untuk membayar USD 1 juta ke salah satu perusahaan yang tidak mendapatkan kontrak e-KTP. Saat ditanyai untuk keterangan lebih lanjut dan mengapa dia melakukan ini, satu-satunya penjelasannya adalah bagaimana keadaan di Indonesia,” tambahnya seperti dikutip dari Merdeka.com.

Baca juga :  Larangan Ceramah di Kampus, Pembodohan Yang Sangat Sistimatis

 

Sebelumnya, kasus korupsi e-KTP terus menggelinding. Beragam episode pun terus diputar dengan ragam cerita menarik. Terbaru, datang dari pengakuan agen FBI bernama, Johnathan Holden.

Baca juga :  Komisi VIII DPR RI Dorong Kemensos Bantu Korban Longsor Cianjur

 

Dikutip dari Merdeka.com, dalam salah satu sesi wawancara pada bulan Juli oleh Konsulat Indonesia di Los Angeles (KJRI di Los Angeles), Holden menyebut jika Johannes Marliem mendapat keuntungan dari proyek e-KTP.

Menurut Holden, Marliem telah melakukan negosiasi bolak-balik dengan KPK selama 18 bulan sebelum menyetujui untuk diwawancarai di Singapura pada bulan Maret tahun ini. Dalam wawancara itu, dia membantah telah menyuap siapa pun.FUZ/MDK*