Home / Daerah / Peristiwa

Jumat, 20 Juli 2018 - 01:02 WIB

Eksekusi Cirata Sempat Mencekam, Tiga perahu terbakar

CIANJUR, kabar1.com – Ratusan petani kolam Jaring Terapung (Japung) waduk Cirata Kampung Maleber gerudug kantor UPTD Perikanan di Desa Gudang, Kecamatan Cikalongkulon, Kamis (19/7). Hal itu, sehubungan dengan kejadian saat tiga perahu dan sebuah gubuk jaring apung terbakar.
Kepada aparat kepolisian dan TNI petani ikan mengaku ada oknum yang tiba-tiba datang setelah mereka berdiskusi dengan koordinator lapangan penertiban jaring apung Cirata.

 

 

“Jadi tadi siang kami berdialog dengan korlap eksekusi jaring lalu kami pulang, sepulangnya kami ternyata ada lagi orang yang datang dan langsung menuju perahu yang akan sedang melakukan eksekusi di tengah,” ujar Aa Agus (41) saat memberikan keterangan kepada Komandan Sektor 12 Kolonel Satriyo Medi Sampurno yang langsung menggali kronologi kejadian dari para petani.

Terbakarnya tiga perahu dan sebuah gubuk jaring apung terjadi saat kegiatan operasi penertiban jaring terapung di wilayah Maleber, Cikalongkulon. Asap tebal hitam yang mengepul ke atas cukup terlihat dari daratan saat terbakarnya perahu dan gubuk jaring apung.

 

Naas, saat akan mengejar oknum, perahu Dishub milik aparat mogok mati mesin. Sehingga para oknum kabur dan tak terkejar.

 

Pasca kejadian, sekitar lima puluh petani jaring apung Desa Maleber berkelompok duduk di sekitar kantor UPTD Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat yang berada di Desa Maleber.

 

Ujang Jaenal seorang warga Kampung Maleber, Desa Gudang, Kecamatan Cikalongkulon, mengatakan terbakarnya perahu tersebut diduga dipicu karena kekesalan warga atas beberapa oknum yang melakukan eksekusi jaring apung yang tak sesuai dengan penyampaian saat sosialisasi pertama kali.

 

“Dari obrolan para petani, saya menangkap ada keganjilan pengeksekusian. Kolam yang berjumlah di bawah lima kolam dieksekusi, selain itu dalam eksekusi aparat saya lihat tak dilibatkan,” ujar Ujang.

 

Ujang mengatakan program penertiban sudah berlangsung selama empat hari oleh mereka yang mengaku dari BPWC.

 

“Memang di awal ada sosialisasi, namun kenyataannya tak sesuai prosedur yang ada, besinya minta dibayar, jumlah yang banyak dibiarkan, malah milik petani yang sedikit yang dibongkar,” ujar Ujang.

 

Ujang berpendapat kalau mau disikat yang jumlahnya besar dulu jangan masyarakat kecil yang punya kolam sedikit.

 

Aparat kepolisian dari Polres Cianjur langsung terjun ke lokasi sambil menggali keterangan dari warga. Terlihat di lokasi Kapolres Cianjur AKBP Soliyah didampingi Wakapolres Cianjur Kompol Santiadjie yang langsung memimpin pengamanan jalannya mediasi petani dengan aparat dan Satgas 12.

 

Terdapat beberapa versi cerita terbakarnya perahu. Ada yang menyebut bahwa perahu dibakar oleh pemiliknya sendiri. Para penumpang dari ketiga perahu diketahui sudah berpindah perahu sebelum perahu terbakar. Sehingga tak ada korban dalam peristiwa terbakarnya perahu tersebut.

 

Dalam mediasi yang berlangsung di kantor UPTD Dinas Perikanan  Provinsi Jabar terkuak beberapa keinginan para petani di antaranyaminta diberhentikan dulu eksekusi, kolam milik petani yang kecil tak digusur.

 

“Kami juga mendapat ancaman jika membongkar sendiri maka akan kena denda Rp 2 juta,” kata Aa.

 

Menanggapi keluhan petani, Dan sektor 12 Kolonel Satriyo Medi Sampurno, meminta warga agar berani melaporkan kepada aparat jika ada oknum yang memeras warga. “Kalau mau ada transaksi jual beli jangan lakukan di air, lakukan di darat setelah semua barang jaring apung selesai dipindahkan,” kata Satriyo.

 

Satriyo juga memerintahkan jajarannya untuk menangkap apabila ada oknum yang meresahkan dan berkoordinasi dengan pihak kepolisian.

 

Pihaknya mengatakan supaya tak terjadi benturan sebelumnya dilakukan sosialisasi dan pendataan ulang serta validasi ke desa setempat.

 

“Dalam operasi ini kami juga minta kerjasama dari petani dalam  hal kejujuran kepemilikan atau kejujuran kolamnya yang masuk target operasi,,” kata Satriyo.

 

Satriyo mengatakan, ada pihak yang masuk dan mulai mengganggu jalannya  eksekusi. Pihak tersebut adalah bandar bandar barang bekas dan bandar besi yang beredar di genangan Cirata.

 

“Harus ada kesepakatan jangan melakukan transaksi di air, kalau ada intimidasi laporkan, tadi malam saya terima aduan dari warga,” katanya. DIE
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Share :

BERITA TERKAIT

Daerah

Panti Pijat Bertebaran di Kabupaten Bogor

Daerah

Penetrasi jalan Desa Girimukti, Efisiensi Pengeluaran
Jabar Bergerak Kabupaten Bogor : Berkolabor Aksi Ditengah Pandemi

Komunitas

Jabar Bergerak Kabupaten Bogor : Berkolabor Aksi Ditengah Pandemi

Peristiwa

PWI Kota Bogor Apresiasi Penanganan Pemkot Terkait Wartawan Berstatus ODP