Corona Bukan yang Pertama

Corona Bukan yang Pertama 106

BOGOR – Virus corona terus mewabah ke se-antero belahan dunia. Namun, siapa sangka, jika pandemi yang banyak merenggut korban jiwa ini, bukan yang pertama terjadi di planet bumi.

‘Hebatnya’ lagi, serangan pandemi itu tak hanya menyasar kematian manusia tapi juga menyerang sisi tatanan sosial, ekonomi dan politik yang berujung pada sejarah kehidupan umat manusia di muka bumi.

Dikutip economagz, ada beberapa serang wabah yang memaksa dunia berubah. Contohnya, wabah kematian hitam membuat Moskow yang tadinya pemain kecil di tanah Rus menjadi bisa bersaing dengan kerajaan-kerajaan lainnya yang terkena wabah. Atau wabah Athena membuat Athena yang merupakan negara superpower kehilangan dominasinya dan menjadi jajahan Sparta.

Namun begitu, ada satu virus yang hampir sama dengan corona, saat ini. Yakni, pandemi Flu Spanyol. Orang sering salah mengira bahwa wabah ini berasal dari Spanyol, atau bahkan hanya melanda Spanyol. Maklum, karena virus ini dinamakan Flu Spanyol. Namun, sejarah penamaan ini sebenarnya sangat jauh dari perkiraan kita.

Wabah ini dinamakan Flu Spanyol karena di masa awal kemunculannya hanya Spanyol yang memberitakan wabah ini dengan transparan. Bahkan, raja Spanyol sendiri, Alfonso XIII, juga terkena wabah ini meski sembuh dan selamat. Sementara, negara lain yang terkena wabah ini mayoritas berupaya menyembunyikan fakta yang sebenarnya. Akibatnya, Spanyol tampak menjadi satu-satunya negara yang habis-habisan dihajar oleh wabah ini. Hal ini memunculkan persepsi di masyarakat saat itu bahwa wabah ini berasal dari Spanyol dan Spanyol adalah negara yang paling menderita.

Ada alasan kuat mengapa mayoritas negara lainnya pada awalnya berupaya menyembunyikan keberadaan wabah tersebut. Wabah ini mulai menyerang pada Januari 1918, sementara perang dunia I baru berakhir 11 November 1918. Mayoritas negara yang terdampak turut dalam perang dunia I dan mereka tidak ingin menurunkan moral pasukannya, apalagi sampai meningkatkan moral lawan. Sementara, Spanyol netral dalam perang tersebut.

Ironisnya, hasil studi saat ini mengindikasikan bahwa flu Spanyol justru tidak berasal dari Spanyol. Étaples, yang berada di bagian utara Perancis, diduga menjadi pusat wabah flu Spanyol. Étaples merupakan tempat pendaratan tentara Inggris dan juga menjadi tempat perawatan tentara Inggris yang terluka. Pada akhir tahun 1917, dilaporkan muncul wabah dengan tingkat kematian yang sangat tinggi. Hal ini cukup wajar mengingat banyak tentara sakit, banyaknya tentara yang lalu-lalang, peternakan babi dan peternakan unggas ada di sana.

Teori lain menjelaskan bahwa flu Spanyol berasal Kansas, Amerika Serikat. Menurut catatan, serangan epidemi ini sudah muncul di akhir tahun 1917 di setidaknya 14 kamp militer Amerika Serikat. Diduga, virus ini berasal dari peternakan unggas dan babi yang berada di Fort Riley, Kansas. Para tentara amerika kemudian membawa virus tersebut ke berbagai penjuru dunia ketika mereka berangkat ke medan perang dunia I.

Ada juga teori lain yang menyebutkan Cina sebagai sumber flu Spanyol. Dalam perang dunia I, sejumlah pekerja dari Cina dikerahkan sekutu. Diduga, mereka membawa virus tersebut dari Cina. Cina memang turut menjadi negara yang terkena wabah flu Spanyol meskipun relatif tidak terlalu parah. Namun, teori ini kurang mendapat dukungan.

Wabah flu Spanyol merebak begitu mudah karena terjadi bersamaan dengan berlangsungnya perang dunia I. Banyaknya konsentrasi manusia, melakukan mobilisasi dalam jumlah besar, seringkali kekurangan nutrisi, kelelahan, dan stress membuat virus ini mudah menyebar. Apalagi, di masa itu moda transportasi semakin maju.

Flu Spanyol menyerang banyak negara. Inggris, Amerika Serikat, Perancis, Cina, Sierra Leone, Jepang, Selandia Baru, Brazil, Ghana, dan lain-lain. Indonesia (yang saat itu bernama Hindia Belanda) juga turut menjadi korban flu Spanyol. Meskipun dimulai pada akhir tahun 1917 dan dinamakan flu Spanyol, wabah ini justru baru mencapai Spanyol pada November 1918.

Serangan wabah flu Spanyol terjadi dalam tiga gelombang. Gelombang pertama, flu Spanyol lebih banyak memakan korban para lansia dan orang sakit. Sementara, mereka yang berusia muda dan berbadan sehat umumnya sembuh dengan cepat. Namun, semua itu berubah di bulan Agustus 1918. Dalam serangan gelombang kedua yang awalnya muncul di Perancis, Amerika Serikat, dan Sierra Leone ini, para pemuda yang sehat juga memiliki tingkat kematian yang tinggi. Gelombang kedua ini menjadi titik dimana wabah mencapai level paling mematikan.

Angka kematian masih simpang siur sampai saat ini. Ada yang menyebut 25 s.d. 39 juta jiwa, 50 juta jiwa, maupun 17 juta jiwa. Saat itu, diperkirakan populasi manusia di Bumi sebanyak 1,8-1,9 miliar jiwa. Sebagai perbandingan, perang dunia I “hanya” memakan korban 16 juta jiwa. Di Indonesia (Hindia Belanda) sendiri, diperkirakan 1,5 juta jiwa meninggal akibat wabah flu Spanyol dari total 30 juta penduduk saat itu.

Oktober 1918 menjadi puncak pandemi. Setelah itu, wabah ini mengalami penurunan. Sempat ada eskalasi di tahun 2019 (yang disebut sebagai gelombang ketiga), namun tidak sempat mencapai level seperti gelombang kedua. Meski, tentunya, tetap saja mengerikan.

Fakta yang cukup ironis dari wabah ini adalah meski tentara amerika membawa virus tersebut dan cukup banyak menjadi korban, blok sentral lah yang jauh lebih besar menjadi bulan-bulanan wabah ini. Jumlah korban meninggal di Jerman dan Austria lebih besar daripada Inggris dan Perancis. Wabah ini mempercepat berakhirnya perang dunia I.

Berikutnya, adalah wabah kematian hitam pada hakikatnya adalah wabah penyakit pes. Lebih tepatnya, penyakit pes yang disebabkan oleh bakteri yersini pestis. Dinamakan demikian untuk menghormati sang peneliti yang pertama kali memahami bakteri ini, Alexandre Yersin.

Bakteri ini dikenal pertama kali oleh Mr. Yersin pada tahun 1894. Wabah ini disebut wabah kematian hitam karena kuku, kulit, dan daging penderita berubah warna menjadi hitam. Wabah kematian hitam adalah wabah yang identik dengan Eropa. Pemahaman umum adalah wabah ini terjadi di Eropa.

Namun, sebenarnya wabah ini juga menghantam sebagian wilayah Asia, tepatnya di wilayah Timur Tengah dan Asia Tengah. Bahkan, sejumlah teori menyatakan bahwa wabah ini berasal dari Asia Tengah. Diduga, adanya perubahan iklim di kawasan Asia Tengah mengakibatkan tikus dan marmut pembawa bakteri ini melakukan migrasi ke wilayah lain. Ada dugaan bahwa wabah ini pertama kali muncul di Kyrgyztan pada tahun 1338-1339.

Penyebaran bakteri ini menjadi semakin luas melalui jalur sutra, baik karena aktifnya pergerakan pasukan Mongol maupun karena perdagangan. Wabah ini turut menyerang India, Tartar, Mesopotamia, Suriah, dan Armenia.

Ada sebuah hipotesis unik mengenai bagaimana wabah ini akhirnya bisa memasuki Eropa. Pada tahun 1347, pasukan Mongol di bawah komando Jani Beg sedang mengepung kota Kaffa, sebuah kota yang terletak di Krimea. Kehilangan kesabaran akibat berlarutnya pengepungan sementara pasukannya terserang wabah mematikan, para tentara Mongol akhirnya melontarkan mayat-mayat yang terinfeksi wabah ini ke dalam tembok kota Kaffa. Terkena serangan biologis ini, para pedagang dari Genoa segera kabur meninggalkan kota dan kembali ke Italia. Di sinilah titik dimana akhirnya wabah ini mencapai Eropa.

Pada bulan Oktober 1347, dua belas kapal galley yang berisikan para pedagang Genoa tiba di Sisilia dan wabah ini pun segera menyebar ke penjuru Italia. Perancis dan Spanyol menyusul terjangkit. Satu tahun kemudian, wabah ini mencapai Portugis dan Inggris. Periode 1348 s.d. 1350, wabah ini mencapai Jerman dan Skandinavia.

Pada tahun 1349, sebuah kapal mendarat Askøy yang memulai penyebaran wabah di Norwegia. Dua tahun kemudian, wabah tersebut mencapai wilayah barat laut Rusia.

Wabah ini juga menyebar di kawasan Timur Tengah. Sebagaimana kita tahu, Kaffa, yang kini bernama Feodosia, merupakan kota pelabuhan yang merupakan bagian dari jaringan perdagangan yang sangat penting di kawasan Laut Hitam. Wabah yang melanda di sana, segera mencapai Konstantinopel, jantung perdagangan dunia saat itu.

Dari Konstantinopel, wabah itu segera menjalar ke kawasan Timur Tengah. Pada musim gugur 1347, wabah ini sudah mencapai Alexandria, Mesir. Wabah ini kemudian menyebar ke Palestina, Mesopotamia, Suriah, dll. Pada Tahun 1349, Kota Mekah ikut terjangkit wabah.

Pada Tahun 1953, serangan wabah ini berhenti. Eropa kehilangan 60% penduduknya. Separuh penduduk Paris menjadi korban. Hamburg, Bremen, dan London mencatatkan 60% penduduknya menjadi korban. Di Timur Tengah, sepertiga penduduk meninggal akibat wabah ini. Sementara Mesir mencatat angka 40% korban jiwa.

Meskipun secara teknis wabah kematian ini berakhir pada tahun 1353, namun wabah ini sebenarnya tidak benar-benar berakhir kala itu. Tercatat, wabah ini kembali tujuh tahun berselang dan terus menyerang selama tiga abad. Baru pada tahun 1671 serangan wabah ini akhirnya berkurang secara signifikan meskipun tidak pernah benar-benar hilang. Periode 1360 sampai dengan 1671 ini disebut masa pandemi wabah kedua. Wabah ini akhirnya benar-benar hilang pada abad ke-18 di Eropa dan abad ke-19 di Afrika.

Wabah kematian hitam memberikan pengaruh sosial yang sangat signifikan. Salah satu alasan Italia akhirnya memasuki era renaissance konon adalah adanya wabah ini. Masyarakat Italia, yang babak belur dihajar oleh wabah ini, kehilangan kepercayaan mereka akan pengobatan spiritual oleh pihak gereja. Akhirnya, mereka memulai pengembaraan ilmiah dalam dunia pengobatan.

Banyaknya korban meninggal mengakibatkan permintaan akan tanah dan bahan makanan menurun. Harga pangan dan sewa tanah pun jatuh. Hal ini mengakibatkan melemahnya kekuatan kaum feodal.

Itulah sekilas tentang wabah kematian hitam. Selama ini kita mengenalnya sebagai wabah di Eropa karena memang di periode itu mereka mencatat fenomena ini dengan sangat baik. Tentunya, dengan keterbatasan informasi, mereka hanya mencatat dunia yang mereka ketahui. Itu sebabnya, kita lebih mengenal wabah ini di Eropa. Meski ironis, mengingat wabah ini sebenarnya dari Asia. Dan bahkan, Asia juga turut menjadi korbannya. (*)

READ  Ini Protokol Jika Alami Gejala Covid-19
tutup

Ad Blocker Detected!

Refresh