300 Ton Ikan Mati di Japung

CIANJUR, kabarsatu.com – Sebanyak 300 ton ikan di kolam Jangari terapung (Japung) mati diakibatkan upwelling. Fenomena itu terjadi lantaran cuaca ekstrem disertai turunnya hujan, selama tiga hari terakhir.

‎Kematian ikan yang terjadi di Blok Maleber, Ciputri, dan Jatinengang itupun diperkirakan membuat petani merugi, bahkan totalnya ditaksik mencapai Rp 6 miliar.

Seorang petani ikan blok Jatinenggang PT Anggun Pratama, Aep Saepudin (42) mengatakan, hujan yang terjadi belakangan ini memang memberikan dampak bagi petani. Aliran air yang deras dan angin mebuat kotoran yang berada di dasar Jangari naik dan membawa racun pada ikan, hingga berujung kematian massal.

Menurutnya, saat ini kematian ikan terus bertambah dan diperkirakan kerugian akan terus bertambah. “Kejadian ratusan ton ikan mati sudah terjadi dalam tiga hari terakhir, sejak turun hujan,” ujar Aep saat dihubungi melalui telepon selular, Kamis (28/9).

Baca juga :  Warga Cibinong Temukan Bungkusan Berisi Kerangka Manusia

Dia mengatakan upwelling kali ini tak hanya menerjang ikan mas saja melainkan ikan nila dan bawal yang biasanya cukup tahan dengan fenomena rutin setiap tahun ini. Menurutnya petani ikan yang kolamnya diterjang upwelling masih didata kemungkinan mencapai 100 orang petani.

“Itu baru dari tiga blok, belum yang lain. Paling parah itu di Maleber, sebab dekat muara,” tuturnya.

Namun dia juga mengaku heran peristiwa upwelling datang di bulan September. Biasanya, kata Aep, upwelling akan menerjang kawasan Cirata pada bulan November atau Desember. “Sekarang malah bulan ke sembilan sudah terjadi. Makanya petani tidak ada persiapan, sebab di luar prediksi,” katanya.

Baca juga :  KPUD Kota Banjar Target selesai Pendistribusian Logisitk

‎Menurutnya, sebagian petani berusaha menekan jumlah ikan yang mati dengan melakukan sistem blower, dimana sirkulasi air dinormalkan lagi. Salah satunya dengan menggunakan mesin perahu.

Namun, sebagian petani memilih untuk panen dini. Hal itu membuat harga ikan menjadi jatuh. Akibatnya, kerugian terus bertambah, di samping karena ikan yang mati.

“Biasanya jual itu Rp 15 ribu per kilogram, sekarang Rp 6.000 per kilogram. Memang jadi anjlok, tapi daripada rugi lebih banyak lagi. Totalnya saja sekarang sudah Rp 6 miliar dari seluruh petani yang terkena dampak, “Kata dia.

Baca juga :  Minibus Terjun Ke Jurang di Garut, Pengemudi Tewas Seketika

‎Dia juga mengungkapkan ikan yang bisa dipanen dini ialah yang masih segar, sementara yang sudah mati langsung dibuang. Sayangnya hingga saat ini belum ada solusi membuang bangkai ikan mati. Selama ini, petani membuat ikan mati ke luar kolam.

“Jai dibuang ke luar kolam, belum ada tempat khusus. Memang jadinya berdampak juga ke pencemaran air, tapi mau bagaimana lagi. Sampai sekarang pemerintah juga belum beri perhatian, mau itu untuk modal ikan mati ataupun solusi membuat tempat khusus mebuang ikan yang mati, “Ucapnya‎, (Die)






Pos terkait