3.316 Wanita di Bogor Menjanda

BOGOR, kabar1.com – Belum genap satu tahun, jumlah perceraian di Kabupaten Bogor terhitung Januari-Agustus 2018 telah mencapai 3.316 kasus, 2.560 diantaranya didominasi gugatan dari perempuan terhadap suami.

Kepaniteraan Muda Hukum pada Pengadilan Agama Cibinong Kelas 1A, Tati Sunengsih mengatakan beberapa faktor penyebab mendominasinya gugatan cerai perempuan utamanya karena faktor ekonomi.

“Selain itu ada juga faktor Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), perselingkuhan dan ada juga dari faktor media sosial,” kata Tati kepada wartawan, kemarin.

Tati menyebut Kabupaten Bogor setiap tahunnya menyumbang angka perceraian yang cukup tinggi dengan rasio peningkatan yang cukup siginfikan. Bahkan hampir setiap tahunnya mengalami peningkatan.

Pada tahun 2017, kata dia, Pengadilan Agama Cibinong Kelas 1A mencatat sebanyak 4.291 kasus perceraian, 3.310 diantaranya juga didominasi gugatan dari perempuan.

“Rata-rata perceraian itu didominasi perempuan usia muda sekitar 20 sampai 30 tahunan. Kami tetap berharap Pemkab Bogor melakukan upaya untuk meminimalisir angka perceraian,” ungkapnya.

Menyikapi hal ini, anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Bogor, Egi Gunadhi Wibhawa menilai mendominasinya perempuan dari kasus perceraian itu lebih kepada komunikasi antara suami istri yang kurang terjalin dengan baik.

“Ketahanan keluarga sangat diperlukan. Hal terkecilnya itu menjalin komunikasi,” kata Egi.

Menurut Egi, kasus perceraian tidak hanya diutamakan oleh faktor ekonomi, melainkan kurangnya pemahaman terhadap keharmonisan dalam rumah tangga.

“Makannya komunikasi adalah hal terbaik yang harus dilakukan, bagaimana caranya mempertahankan rumah tangga. Tapi ini pekerjaan kita bersama untuk mencegah dan mensosialisasikan,” tegas Politisi PDIP itu.

Pos terkait