2017, Tindak Kekerasan Anak di Cianjur Tinggi

CIANJUR, kabar1.com – Menjelang akhir tahun kasus kekerasan terhadap anak masih terus terjadi dan tidak sedikit yang terkendala proses hukumnya. Bahkan Pelayanan Terpadu Pelayanan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Cianjur mencatat ada 40 kasus terjadi sejak Juli hingga awal Desember 2017 

Kepala Bidang (Kabid) Advokasi dan Penanganan Perkara P2TP2A Cianjur, Lidya Indayani Umar, mengatakan, meski terus terungkap hingga akhir tahun, jumlahnya memang dinilai menurun dibandingkan dengan yang terjadi per Desember 2016 yakni sebanyak 65 kasus. 

Baca juga :  Persempit Ruang Gerak Jaringan Internasional, BNN RI Galang Kekuatan Sejumlah Negara

”Tapi memang angka tersebut masih terbilang tinggi, apalagi ini menimpa anak,” ujarnya kepada wartawan.

Lidya, menjelaskan, banyak anak dan remaja di Cianjur mengalami kekerasan terhadap anak terbagi atas kekerasan fisik, seksual, hingga trafficking. Terakhir, P2TP2A Cianjur dihadapkan pada kasus penganiayaan seorang remaja yang akhirnya meninggal dan proses hukumnya sedikit terkendala.

Lidya mengatakan, P2TP2A juga terus mendampingi korban dan keluarganya dalam proses hukum. Pasalnya, tidak sedikit korban yang ketakutan untuk menghadapi peradilan atas kasus yang menimpa mereka. Apalagi, mayoritas kekerasan sejauh ini memang dilakukan oleh orang terdekat mereka.

Baca juga :  Ade Barkah Janji Tingkatkan Kesejahteraan

”Korban kenal dengan pelaku, tidak jarang akhirnya itu membuat korban tidak berani mengadu dan melawan pelaku di pengadilan. Inilah yang mempersulit proses peradilan,” ujarnya.

Dia menambagkan, kasus kekerasan di Cianjur juga seringkali sulit terungkap karena ketiadaan saksi atau lingkungan yang mendukung korban. Hal itu banyak terjadi, karena lingkungan sekitar korban takut untuk terlibat lebih jauh, terutama jika pelaku yang dinilai mengancam belum berhasil ditangkap.

Baca juga :  Bawa 115 Paket Ganja, Wanita di Papua Ditangkap BNN

Lidya tidak menampik, sejumlah kasus yang dihadapi P2TP2A banyak terkendala oleh keterangan saksi yang bisa memberatkan pelaku. Sebenarnya hal tersebut cukup dipahami, terutama bagi korban kekerasan yang berada di wilayah pelosok.

”Lebih banyak yang mempertahankan ketakutan mereka. Padahal, masyarakat harusnya bisa berkata yang sebenar-benarnya ketika ada kasus kekerasan. Hukum akan berpihak pada orang benar, makanya setiap orang yang terlibat harus memberanikan diri untuk buka suara,” tandasnya.DIE